Darilaut (UNG) – Tim Universitas Tadulako (Untad) melakukan kunjungan ke Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Selasa (24/7).
Dalam kegiatan ini tim Untad, antara lain, melakukan benchmarking pelaksanaan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Undtad Dr. Lukman disambut langsung Wakil Rektor Bidang Akademik UNG Dr. Harto Malik, didampingi pengelola RPL UNG, di gedung rektorat UNG.
Dr. Lukman, mengatakan kunjungannya kali ini sehubungan dengan pelaksanaan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM), terutama kegiatan bina desa atau KKN tematik serta implementasi Permendikbudristek No 41 tahun 2021 tentang RPL.
“Sehubungan dengan implementasi beberapa program tersebut, kami berkunjung sekaligus melakukan benchmarking di UNG,” ujar Lukman.
Wakil Rektor Dr. Harto Malik, mengatakan KKN MBKM terintegrasi dengan program aplikasi SIAT. Program SIAT menyediakan mata kuliah apa saja yang telah direkognisi ke MBKM.
“Mahasiswa memilih sendiri. Untuk beberapa mata kuliah yang tidak ada di MBKM, maka mahasiswa MBKM akan mengikuti kuliah secara daring,” kata Harto.
Ketua Tim RPL UNG Dr. Muchtar Ahmad, mengatakan, UNG saat ini mengelola RPL Belmawa, Sekolah Desa Jalur RPL Kemendes dan RPL Vokasi.
Dalam pelaksanaan program RPL tetap mengedepankan marwah akademik melalui penguatan penjaminan mutu rekrutmen calon mahasiswa, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi.
“Ini sebagaimana amanah rektor UNG bahwa RPL ini sebagai bagian pengabdian perguruan tinggi, untuk memberikan ruang yang luas pada masyarakat untuk tetap melaksanakan pembelajaran sepanjang hayat,” kata Muchtar.
Menurut Muchtar, UNG tetap mengikuti kaidah-kaidah dan ketentuan yang berlaku, terutama dalam mewujudkan visi UNG unggul dan berdaya saing, serta solutif dalam penguatan pembangunan di wilayah Teluk Tomini.
Dalam proses rekrutmennya pengelola berupaya tetap teguh pada prinsip akuntabilitas dan transparansi pengelolaan RPL.
Sekretaris LPPM UNG Prof. Dr. Lanto Ningrayati Amali, Ph.D, mengatakan bahwa penerimaan proposal oleh dosen pembimbing lapangan MBKM dan pendaftaran mahasiswa peserta MBKM sepenuhnya dilaksanakan oleh LPPM sebagai panitia penyelenggara.
Akan tetapi jenis mata kuliah yang beroleh rekognisi diajukan oleh Program Studi. “Kami menamakan MBKM Terintegrasi KKN dan sudah merencanakan untuk menyelenggarakan keseluruhan KKN menjadi MBKM 4 – 6 bulan di lapangan,” ujarnya.
Prof. Lanto mengatakan suksesnya MBKM tergantung program studi. Jika program studi mewajibkan MBKM kepada seluruh mahasiswanya, maka mahasiswa tentu akan mengikuti program MBKM tersebut.
LPPM UNG terlibat langsung dalam proses rekrut DPL dan penempatan mahasiswa, survey dan visitasi calon desa lokasi pengabdian, kompetisi proposal, penyediaan reviewer, serta monitoring dan evaluasi kegiatan MBKM di lapangan.
(Catatan: Benchmarking dapat diartikan sebagai suatu standar yang dimanfaatkan sebagai pembanding antara satu hal dengan lainnya yang sejenis. Jadi, dengan adanya patokan ini, maka berbagai hal dapat diukur dengan standar baku yang umum).
