Darilaut – Musim kemarau mengindikasikan kondisi atmosfer yang relatif kering. Hasil pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Dasarian I September 2026, sekitar 81% Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Hal ini juga terlihat dari semakin banyaknya wilayah yang mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan.
BMKG mencatat Tercatat sebanyak 1.637 titik mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrim, yaitu lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan, yang meliputi wilayah Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.
Menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG atmosfer yang relatif kering tersebut didukung oleh pengaruh El Niño yang masih berada pada kategori sangat kuat, dengan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat sebesar +2,76°C pada Dasarian I September 2026. Fenomena El Niño ini diprakirakan masih bertahan hingga awal tahun 2027.
Hujan Lokal
Meski kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi secara lokal.
Pada periode 10–13 September 2026, hujan lebat tercatat di Provinsi Riau, Aceh, dan Sumatera Utara. Hujan dengan intensitas tinggi pada periode tersebut turut memicu kejadian bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Timur, Aceh serta Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Masih adanya hujan di tengah dominasi musim kemarau tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih aktif di beberapa wilayah.
Pada 10–13 September 2026, Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau aktif di sekitar Sumatera, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara.
Sementara itu, Gelombang Kelvin terpantau aktif di sekitar Sumatera Utara, Riau, sebagian Kalimantan, dan sebagian Sulawesi. Kondisi ini juga diperkuat oleh adanya daerah pertemuan dan belokan angin di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
Kekeringan dan Karhutla
Kombinasi minimnya curah hujan dan kondisi atmosfer kering akibat musim kemarau yang diperkuat dengan El Niño memicu sejumlah wilayah mengalami kekeringan serta meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia.
Dampak lain yang perlu diwaspadai dari kondisi kering adalah muncul dan meluasnya kabut asap akibat karhutla, khususnya dari kebakaran di kawasan gambut, menurut BMKG.
Pemantauan BMKG melalui satelit pada 13 September 2026, titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi masih banyak terdeteksi.
Konsentrasi terbanyak terdapat di Kalimantan, yaitu 627 titik, disusul Papua dan Maluku sejumlah 200 titik, Sulawesi 104 titik, serta Sumatra 86 titik.
