Darilaut – Aktivitas manusia tetap menjadi penyebab utama kebakaran hutan di tengah iklim yang memanas.
Data terbaru menyebutkan 434 ribu hektare hutan terbakar di seluruh Eropa. Sementara di Amerika Serikat dan Kanada hutan yang terbakar lebih dari 5,6 juta hektare.
“Setiap musim panas mengingatkan kita bahwa kebakaran hutan bukan lagi peristiwa luar biasa tetapi konsekuensi yang semakin dapat diprediksi dari iklim yang memanas,” kata Paola Deda, Direktur Divisi Lingkungan dan Hutan Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa atau UN Economic Commission for Europe (UNECE).
Kebakaran hutan yang melanda Eropa dan Amerika Utara menyoroti kebutuhan mendesak untuk bertindak sekarang – karena perubahan iklim, tekanan penggunaan lahan, dan aktivitas manusia membuat kebakaran hebat lebih mungkin terjadi di masa depan.
“Meskipun respons darurat tetap penting, peluang terbesar kita terletak pada pencegahan, pengelolaan hutan berkelanjutan, dan membangun lanskap dan komunitas yang lebih tangguh,” kata Paola Deda seperti dikutip dari UN News.
Di Eropa, kebakaran hutan telah menghancurkan sekitar 42.000 hektar hutan pinus di wilayah Gironde, Prancis, dan memaksa puluhan ribu penduduk dan wisatawan untuk mengungsi.
Negara tetangga Spanyol telah mencatat lebih dari 200.000 hektar lahan terbakar, atau dua kali lipat rata-rata historisnya, menjadikan ini salah satu musim kebakaran hutan terburuk di negara itu dalam beberapa dekade.
Uni Eropa (UE) baru-baru ini memperingatkan bahwa krisis kebakaran hutan bergerak ke arah timur, dengan Yunani dan Italia menghadapi peningkatan risiko karena panas, kekeringan, dan angin kencang terus berlanjut hingga awal Agustus.
Situasi di seberang Atlantik sama parahnya. Amerika Serikat telah mencatat sekitar 1.849.000 hektar lahan terbakar sejauh tahun ini, sementara Kanada telah mengalami lebih dari 4.000 kebakaran hutan yang telah membakar 3.770.000 hektar dan puluhan kebakaran besar masih belum terkendali.
Meskipun kebakaran hutan sering diukur dalam jumlah hektar yang terbakar, dampak manusia meluas jauh melampaui tepi hutan.
Rumah, infrastruktur, dan mata pencaharian dapat hilang dan seluruh komunitas terpaksa mengungsi dalam waktu singkat. Selain itu, asap dapat menyebar ratusan atau bahkan ribuan kilometer, memengaruhi kualitas udara dan orang-orang yang berada jauh.
Kerugian ekonomi juga meningkat. Di Uni Eropa saja, kebakaran hutan diperkirakan menelan biaya sekitar 2,5 miliar Euro setiap tahunnya melalui kerusakan infrastruktur, hilangnya pendapatan pariwisata, dan gangguan terhadap perekonomian secara luas.
Bahkan setelah api padam, masyarakat harus menghadapi degradasi ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan produktivitas pertanian, dampak kesehatan, dan restorasi yang mahal.
Krisis yang Disebabkan Manusia
Penyebab utama kebakaran hutan lantaran aktivitas manusia. Kira-kira sembilan dari sepuluh kebakaran disebabkan oleh manusia – baik karena kelalaian maupun tindakan yang disengaja.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak kebakaran dapat dicegah melalui peningkatan kesadaran publik, peraturan yang lebih ketat, pembatasan sementara selama periode bahaya kebakaran ekstrem, dan perilaku bertanggung jawab di hutan dan kawasan alami.
Sementara itu, perubahan iklim membuat kebakaran menjadi lebih besar dan lebih merusak, karena kenaikan suhu, kekeringan yang berkepanjangan, gelombang panas yang lebih sering, dan perubahan pola curah hujan memperpanjang musim kebakaran dan mengekspos wilayah yang sebelumnya dianggap berisiko rendah.
Kebakaran hutan juga mempercepat krisis iklim. Pada tahun 2021, kebakaran hutan melepaskan sekitar 1,8 miliar ton karbon dioksida.
Antara tahun 2001 dan 2023, emisi karbon global dari kebakaran hutan melonjak sekitar 60 persen, sementara emisi dari kebakaran hutan boreal di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Tengah hampir tiga kali lipat.
Hal ini menciptakan lingkaran umpan balik yang berbahaya, kata UNECE, karena perubahan iklim meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kebakaran hutan yang lebih besar melepaskan lebih banyak gas rumah kaca, yang semakin mempercepat pemanasan global.
Investasi Melalui Pencegahan
Meskipun kebakaran hutan ekstrem tidak selalu dapat dihentikan setelah terjadi, frekuensi dan dampaknya dapat dikurangi secara signifikan.
UNECE menyerukan investasi yang lebih besar dalam pencegahan, pengelolaan hutan berkelanjutan, peringatan dini, kesadaran publik, dan adaptasi iklim untuk menyelamatkan nyawa, melindungi hutan, dan mengurangi kerugian.
Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, menjadi alat penting dalam hal ini, seperti sistem deteksi bertenaga AI di Turki, pemantauan satelit, dan pemetaan risiko secara real-time.
Namun, UNECE menegaskan bahwa teknologi saja tidak akan cukup.
Seiring dengan terus meningkatnya risiko iklim, penguatan ketahanan hutan terhadap kebakaran bukan lagi hanya prioritas lingkungan – tetapi juga investasi dalam keselamatan publik, stabilitas ekonomi, dan keamanan iklim, kata UNECE.
