Alat Ini Dapat Deteksi Gempa 3 Hari Sebelum Terjadi

Rumah yang rusak karena gempa dan likuefaksi di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat 28 September 2018. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang mengembangkan alat yang mampu mendeteksi dan memberikan peringatan gempa bumi yang akan terjadi 1-3 hari.

Hasil ini beradasarkan pengamatan yang kemudian dikembangkan, dan dirumuskan dalam suatu algoritma prediksi sistem peringatan dini gempa bumi.

Ketua tim riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Prof Sunarno, Ph.D, Minggu (27/9) mengatakan, dari EWS gempa alogaritma yang dikembangkan bisa mengetahui 1 sampai 3 hari sebelum gempa. Jika gempa besar di atas magnitudo (M) 6, sekitar 2 minggu sebelumnya alat ini sudah mulai memberikan peringatan.

Menurut Sunarno, sistem peringatan dini gempa yang dikembangkan bersama tim, bekerja berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi.

Apabila akan terjadi gempa di lempengan, akan muncul fenomena paparan gas radon alam dari tanah meningkat secara signifikan. Demikian juga permukaan air tanah naik turun secara signifikan.

“Dua informasi ini dideteksi oleh alat EWS dan akan segera mengirim informasi ke handphone saya dan tim. Selama ini informasi sudah bisa didapat 2 atau 3 hari sebelum terjadi gempa di antara Aceh hingga NTT,” kata Sunarno, seperti dikutip dari Ugm.ac.id.

Sistem yang dikembangan terdiri dari alat EWS yang tersusun dari sejumlah komponen seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon. Selain itu, pengkondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, sumber daya listrik. Lalu, memanfaatkan teknologi internet of thing (IoT).

Sunarno mengatakan, pada 2018 bersama tim telah melakukan penelitian untuk mengamati konsentrasi gas radon dan level air tanah sebelum terjadinya gempa bumi.

Sistem ini terbukti telah mampu memprediksi terjadinya gempa bumi di Barat Bengkulu M5,2 (28/8/2020), Barat Daya Sumur-Banten M5,3 (26/8/2020), Barat Daya Bengkulu M5,1 (29/8/2020), Barat Daya Sinabang Aceh M5,0 (1/9/2020), Barat Daya Pacitan M5,1 (10/9/2020), Tenggara Naganraya-Aceh M5,4 (14/9/2020), dan lainnya.

Sistem peringatan dini gempa ini telah digunakan untuk memprediksi gempa. Ada 5 stasiun pantau/EWS yang tersebar di DIY yang dalam setiap 5 detik mengirim data ke server melalui IoT.

“Lima stasiun EWS ini masih di sekitar DIY. Jika seandainya terpasang di antara Aceh hingga NTT kita dapat memperkirakan secara lebih baik, yakni dapat memprediksi lokasi lebih tepat /fokus,” ujarnya.

Sunarno mengatakan, sistem deteksi tersebut dikembangkan sebagai mekanisme membentuk kesiapsiagaan masyarakat, aparat, dan akademisi untuk mengurangi risiko bencana.

Hal ini karena posisi Indonesia yang berada di 3 lempeng tektonik dunia menjadikannya rentan terjadi gempa bumi.

Sepanjang tahun 2019 telah terjadi 11.473 gempa bumi. Aktivitas gempa bumi ini signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 terjadi sebanyak 344 kali.

Gempa kecil dengan kekuatan kurang dari M5,0 terjadi sebanyak 11.229. Gempa-gempa tersebut tak hanya menyebabkan ratusan korban luka, tetapi juga merusak ribuan bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum.

Sistem peringatan dini gempa bumi ini akan terus dikembangkan hingga mampu memprediksi waktu terjadinya gempa secara tepat, lokasi koordinat episentrum gempa hingga magnitudo gempa.

Pengembangan sistem peringatan dini gempa bumi ini diharapkan dapat membantu aparat dan masyarakat dalam melakukan evaluasi penyelamatan penduduk lebih cepat.

Selain itu, dapat menjadi rekomendasi sistem instrumentasi untuk peringatan dini gempa bumi dan memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai prediksi gempa bumi. Sehingga selalu siap dan waspada terhadap bencana gempa bumi.*

Exit mobile version