Area Hutan dan Lahan Terbakar di Indonesia Tahun 2026 Hampir 2 Juta Hektare

GAMBAR: NUSANTARA ATLAS

Darilaut – Sepanjang tahun 2026, hingga Oktober ini, area hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia hampir 2 juta hektare. Adapun jumlah titik panas (hotspots) kebakaran hingga 20 Oktober lebih dari 1,1 juta.

Secara kumulatif area terbakar terluas di Papua Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur.

GAMBAR: NUSANTARA ATLAS

Jumlah titik panas Kebakaran per hari dalam setahun terbanyak di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Papua Selatan, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Maluku Utara.

GAMBAR: NUSANTARA ATLAS

Data Nusantara Atlas menyebutkan Januari hingga Selasa (20/10) pagi, titik panas kebakaran sebanyak 1,146,209 dengan luas area yang terbakar 1,916,588 hektare.

Jika dibandingkan dengan tahun 2019 jumlah titik panas 885,037, sedangkan luas area yang terbakar 2,631,469 hektare.

Nusantara Atlas menyajikan dua statistik area terbakar yang saling melengkapi: luas area terbakar (burned extent) dan total luas area terbakar kumulatif (cumulative burned area). Total luas area terbakar kumulatif menghitung kejadian kebakaran berulang; artinya, area yang sama akan dihitung kembali jika terbakar pada tahun yang berbeda atau dalam beberapa kejadian terpisah.

Sebaliknya, luas area terbakar (burned extent) tidak menghitung kebakaran berulang, melainkan hanya menghitung satu kali saja. Kedua statistik ini secara bersama-sama membantu membedakan antara kejadian kebakaran tunggal dengan lanskap yang terdampak oleh kebakaran kronis yang terjadi berulang kali.

Meskipun jumlah area yang terbakar hingga Oktober 2026 masih lebih rendah dibandingkan dengan total tahun 2019, lokasi yang terbakar masih terus berlanjut di sejumlah wilayah Indonesia.

Sanksi 32 Perusahaan

Dari jutaan area hutan dan lahan yang terbakar serta titik panas yang terdeteksi di Indonesia, baru 32 perusahaan di areal konsesi kebakaran hutan dan lahan mendapat sanksi administratif pembekuan maupun paksaan pemulihan ekosistem hutan. Total areal yang terbakar mencapai 12.926,74 hektare.

Dalam siaran pers, Kementerian Kehutanan mengatakan bahwa sebaran 32 perusahaan tersebut berada di 7 Provinsi. Jambi 2 perusahaan (PT REI, PT ALN), Sumatera Selatan 5 perusahaan (PT BMH, PT BPP, PT SAN, PT RHM dan PT BA).

Kemudian, Kalimantan Barat 9 perusahaan (PT MRU, PT WE, PT HKI, PT MPM, PT MPK, PT DAS, PT WSP, PT FI, PT WLJ), Kalimantan Selatan 5 perusahaan (PT IIP, PT HRB, PT DI, PT PM, PT KT), Kalimantan Tengah 7 perusahaan (PT PW, PT GPP, PT BHP, PT BWL, PT NES, PT DI, PT TI), Kalimantan Timur 3 perusahaan (PT IITG, PT PSR, PT DPP), Kalimantan Utara 1 perusahaan (PT RKR).

Dari 32 perusahaan, terdapat 19 perusahaan dikenakan sanksi administratif pembekuan disertai paksaan pemulihan ekosistem hutan dengan areal terbakar seluas 9.546,42 hektare.

Ada 8 subjek hukum dikenakan paksaan pemulihan ekosistem hutan dengan areal terbakar seluas 2.211,19 hektare. Adapun 5 subjek hukum telah dilakukan pencabutan izin.

Selain melalui instrumen administratif, proses pidana dilakukan terhadap 125 subjek hukum (baik korporasi maupun perorangan) terkait dugaan tindak pidana kebakaran hutan.

Berdasarkan perkembangan penanganan perkara, 44 subjek hukum berada dalam proses penyelidikan, 79 subjek hukum dalam proses penyidikan.

Terdapat 12 orang telah ditetapkan sebagai tersangka perorangan, dan 1 korporasi telah ditetapkan sebagai tersangka.

Adapun 2 subjek hukum korporasi telah mencapai tahap P-22 (Penyerahan tersangka dan barang bukti ke Jaksa). Setiap perkara ditangani berdasarkan fakta, alat bukti, dan perkembangan proses hukum masing-masing.

Fenomena  El Niño

Seiring dengan menguatnya El Niño titik panas dan areal Lokasi kebakaran juga terus meluas.  Hingga Oktober ini fenomena El Niño sangat kuat masih terus berkembang. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan puncak El Niño akan terjadi bulan Desember 2026.

Dalam Buletin Iklim bulanan terbaru, Copernicus Climate Change Service (C3S) mengatakan rekor SST harian dan bulanan tertinggi sebelumnya untuk bulan September tercatat pada tahun 2023, saat peristiwa El Niño yang kuat juga sedang berkembang.

Anomali suhu permukaan laut untuk bulan September 2026 dibandingkan dengan rata-rata bulan September pada periode acuan 1991–2020. Sumber data: ERA5. GAMBAR: C3S/ECMWF.

Namun, kata C3S, berdasarkan anomali SST di wilayah Niño 3.4, El Niño saat ini sudah jauh lebih kuat dibandingkan peristiwa tahun 2023 pada tahap perkembangan yang sama.

Rata-rata suhu permukaan laut di wilayah samudra di luar kutub (60°LS–60°LU) untuk bulan September 2026 adalah 21,05°C, menurut C3S. Angka ini merupakan rekor tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan September.

Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) telah berada dalam fase positif sejak September 2026, dengan nilai mingguan terakhir mencapai +0,88°C untuk periode 5–11 Oktober 2026.

Anomali tetap tertekan di wilayah Indonesia, Samudra Pasifik bagian barat khatulistiwa. El Niño yang terus menguat tersebut, dengan kemungkinan terjadinya El Niño kategori kuat hingga sangat kuat hingga periode Januari-Maret 2027.

Menurut Climate Prediction Centre (CPC)  National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS, peluang ini tetap di atas 83%.

Anomali di wilayah Indonesia, Pasifik khatulistiwa bagian barat. GAMBAR: NOAA

NOAA mengatakan El Niño semakin menguat bulan lalu, dengan anomali suhu permukaan laut melebihi +4,0°C di sebagian wilayah Pasifik khatulistiwa bagian timur.

Sebagian besar indeks Niño meningkat dalam sebulan terakhir, mencapai +2,1°C pada Niño-3.4, +3,0°C pada Niño-3, dan +3,9°C pada Niño-1+2.

Center for Climate Systems Research (CCSR) – International Research Institute for Climate and Society (IRI) menyebutkan indeks Niño 3.4 bulanan mencapai +2,84°C. Kondisi ini menempatkan peristiwa El Niño yang sedang berlangsung ke dalam kategori “sangat kuat”. Indeks Niño 3.4 mingguan terbaru, yang berpusat pada 7 Oktober 2026, naik menjadi +3,3°C, menunjukkan penguatan berkelanjutan dari kondisi El Niño di seluruh wilayah Pasifik tropis.

Perlu dicatat bahwa nilai Niño 3.4 tetap berada di atas +3,0°C selama empat minggu terakhir, yang menegaskan persistensi serta kekuatan luar biasa dari peristiwa El Niño yang sedang terjadi saat ini.

Tingginya suhu permukaan laut pada bulan September 2026 mencerminkan kondisi El Niño yang berkembang pesat di Pasifik khatulistiwa. Anomali SST tersebut jauh di atas rata-rata di banyak wilayah samudra. (VM)

Exit mobile version