Asap Menyebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua

Sebaran asap di Gorontalo, Pulau Sulawesi. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Kondisi lahan di sejumlah wilayah Indonesia semakin kering seiring dengan kurangnya potensi hujan.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hal ini turut meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan periode tanpa hujan yang panjang.

Pengamatan BMKG melalui citra satelit Himawari pada 15 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB memperlihatkan keberadaan asap yang menyebar di sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Sebaran titik panas dan asap tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla masih menjadi perhatian, khususnya pada wilayah yang mengalami defisit hujan dan memiliki kondisi vegetasi yang kering, kata BMKG.

Hasil pemantauan BMKG pada 14 Oktober 2026, teridentifikasi 1.297 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebaran terbanyak tercatat di Sumatera sebanyak 505 titik dan Kalimantan sebanyak 346 titik, disusul Papua dan Maluku sebanyak 330 titik. Sementara itu, Sulawesi terpantau memiliki 66 titik, Nusa Tenggara 38 titik, dan Jawa 12 titik.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Rabu, 14 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 372 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Jumlah tersebut meningkat 128 titik atau sekitar 52,5 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 244 hotspot.

Di Kalimantan Tengah tercatat 130 titik, naik dari 65 titik; Sumatera Selatan: 91 titik, naik dari 59 titik;
Kalimantan Barat: 59 titik, naik dari 15 titik; Jambi: 9 titik; dan Kalimantan Selatan: 5 titik, turun dari 9 titik.

Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat menjadi wilayah yang mendapat perhatian lebih berdasarkan perkembangan pemantauan tersebut.

Di tengah kondisi atmosfer yang masih kering, suhu udara terasa panas. BMKG mencatat suhu udara maksimum di atas 37°C pada sebagian wilayah pada 12-13 Oktober 2026, yaitu di Lampung (38.2°C), Papua Selatan (37,4°C), Kalimantan Selatan (37,4°C), Jawa Barat (37,8°C), dan Jawa Tengah (37,8°C). Ada beberapa faktor yang menyebabkan suhu udara lebih tinggi, antara lain posisi semu matahari yang saat ini berada di selatan ekuator serta tutupan awan yang masih minim.

Hal ini menyebabkan radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal dan mengakibatkan suhu udara yang cukup tinggi di sebagian besar wilayah indonesia, khususnya bagian selatan.

Di sisi lain, kata BMKG, pengaruh dinamika atmosfer masih memungkinkan terbentuknya awan hujan yang berpotensi menghasilkan hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah.

Aktivitas MJO secara spasial bersama dengan Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif, terutama di Sumatera bagian utara dan barat serta sebagian Kalimantan.

Kondisi tersebut juga didukung oleh perlambatan aliran angin di sejumlah daerah dan suhu permukaan laut yang relatif hangat di perairan Indonesia bagian barat, sehingga menunjang pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan.

Sejalan dengan kondisi tersebut, pada periode 13–15 Oktober 2026, BMKG mencatat curah hujan harian dengan kategori lebat hingga ekstrem di sejumlah wilayah, antara lain di Aceh 187 mm/hari, Papua Barat Daya 63 mm/hari, Sumatera Utara 95 mm/hari, dan Sumatera Barat 69 mm/hari. Hal ini menunjukkan bahwa potensi hujan signifikan masih tetap ada di sebagian wilayah Indonesia meskipun wilayah yang lain cenderung kering dengan tutupan awan minim.

Exit mobile version