Darilaut – Banjir bandang dahsyat dan tanah longsor menerjang Nepal bagian utara mengakibatkan 95 orang meninggal dunia dan 391 wisatawan hilang.
Sedikitnya 95 orang tewas dan ratusan lainnya hilang setelah banjir bandang besar menyapu desa-desa distrik Rasuwa di Nepal bagian utara.
Sunil Sharma dari Dewan Pariwisata Nepal pada, Rabu (26/8) mengatakan sebanyak 384 wisatawan, termasuk 291 warga negara asing, dilaporkan hilang setelah banjir bandang hebat melanda distrik Rasuwa di Nepal bagian utara. Wisatawan asing yang hilang itu antara lain berasal dari India, Australia, Belanda, Amerika Serikat, Malaysia, Inggris, dan Afrika Selatan.
“Sejauh ini, tercatat 95 kematian,” ujar juru bicara kepolisian Abi Narayan Kafle, mengutip dari Aljazeera.com. Terdapat 28 personel polisi juga turut hilang.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, mengimbau seluruh masyarakat negara di kawasan Himalaya tersebut untuk bersatu pascabencana ini.
“Mohon bersabar. Pemerintah bertanggung jawab penuh atas upaya penyelamatan, perawatan, serta penyediaan makanan dan tempat penampungan bagi Anda semua. Di masa bencana seperti ini, kita harus bersatu,” kata Shah dalam pernyataan yang dibagikan melalui media sosial.
Ketinggian air yang ekstrem menyulitkan helikopter untuk mendarat di wilayah terdampak di Nepal, yakni Syapru Besi dan Timure di distrik pegunungan Rasuwa—yang berpenduduk sekitar 50.000 jiwa—demikian disampaikan oleh para pejabat setempat.
Administrator distrik, Narendra Pariyar, mengimbau warga yang tinggal di bantaran Sungai Bhote Koshi di wilayah tersebut untuk segera mencari tempat yang lebih tinggi, menyusul adanya laporan bahwa desa-desa dan lokasi proyek infrastruktur di sekitarnya telah tersapu banjir.
“Kami telah meminta bantuan India dan Tiongkok untuk mendukung upaya penyelamatan ini,” ujar Sasmit Pokharel, juru bicara pemerintah Nepal.
Tanah longsor melanda pos lintas batas Gyirong di sisi Tiongkok, memutus akses jalan, jaringan komunikasi, dan aliran listrik di wilayah Shigatse.
Melansir Xinhua, Presiden Tiongkok Xi Jinping telah memerintahkan upaya maksimal untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang hilang setelah tanah longsor di Nepal menyebabkan jatuhnya korban jiwa di pos perbatasan Gyirong, Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya, pada Rabu pagi.
Presiden Xi menyerukan upaya untuk mengevakuasi warga yang berisiko dan memberikan perawatan medis segera bagi korban luka guna meminimalkan jumlah korban.
Instruksi tersebut disampaikan setelah tanah longsor terjadi sekitar pukul 10.30 pagi hari Rabu di wilayah Nepal, yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban dan hilangnya sejumlah orang di pos perbatasan Gyirong, Kabupaten Gyirong.
Xi juga menekankan perlunya memperkuat pemantauan dan peringatan dini, memastikan operasi penyelamatan dilakukan secara ilmiah, serta mewaspadai bencana susulan.
Mengingat Cina saat ini sedang berada dalam periode kritis pengendalian banjir, ia mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk bersiap menghadapi skenario terburuk dan situasi ekstrem, menerapkan langkah-langkah pencegahan banjir dan topan secara menyeluruh, serta meningkatkan upaya untuk mengidentifikasi dan menangani potensi risiko dan bahaya.
Ia menuntut tindakan tegas untuk mencegah bencana dan kecelakaan besar maupun katastropik, serta melindungi nyawa dan harta benda masyarakat.
Perdana Menteri Li Qiang juga mengeluarkan instruksi yang menyerukan verifikasi segera mengenai jumlah orang yang hilang dan terdampak, serta upaya penyelamatan dan bantuan yang maksimal.
Li menginstruksikan Kementerian Luar Negeri untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan negara-negara terkait, segera berbagi informasi, dan bekerja sama dalam menangani upaya penyelamatan dan bantuan secara tepat.
Sumber: Aljazeera.com dan Xinhua
