Darilaut – Bibit siklon tropis 99S (Tropical Low 21U) saat ini terletak di Laut Timor, Selasa (18/2).
Sistem ini berada di barat laut Darwin Australia atau timur Tenggara Kupamg, Nusa Tenggara Timur.
Bibit 99S memiliki angin permukaan berkelanjutan maksimum adalah sekitar 35 km per jam (20 knot).
Tekanan permukaan laut minimum diperkirakan mendekati 1006 hPa (hektopaskal), kata Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama – Joint Typhoon Warning Center (JTWC).
Menurut JTWC sistem ini memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, kondisi cuaca di Indonesia teramati masih dipengaruhi oleh beberapa gangguan tropis berupa sirkulasi siklonik khususnya di perairan sebelah selatan Indonesia.
Salah satunya adalah sirkulasi siklonik yang terpantau di Laut Timor, selatan Nusa Tenggara Timur yang diprediksi semakin menguat dan berpotensi akan menjadi Bibit Siklon Tropis dalam beberapa hari ke depan.
Kondisi ini, kata BMKG, mengakibatkan peningkatan curah hujan yang signifikan di wilayah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Terdapat sirkulasi siklonik berada di perairan barat daya Banten yang mengakibatkan konvergensi memanjang dari barat daya Lampung hingga selatan Jawa Tengah dan dapat meningkatkan curah hujan di wilayah Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.
Kedua sirkulasi siklonik ini mampu menyebabkan terjadinya peningkatan kondisi cuaca menjadi cuaca ekstrem hingga sepekan ke depan.
Sirkulasi siklonik yang terpantau di wilayah Laut Timor selatan NTT dan barat daya Banten, dapat menyebabkan daerah pertemuan angin (konvergensi) di wilayah Laut Timor, NTT dan perairan selatan Jawa.
Selain itu, menurut BMKG, daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) lainnya terpantau memanjang dari Selat Malaka hingga Riau, dari Riau hingga Sumatera Selatan, di Pesisir barat Bengkulu, Perairan barat Bengkulu, perairan selatan Jawa Timur, pesisir utara Jawa Tengah, di Laut Flores, dari dari laut seram hingga Laut Banda.
Pertemuan angin (konfluensi) terpantau di Perairan Selatan Lampung hingga Banten, Laut Banda dan Laut Arafura.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan ketinggian gelombang laut di sekitar wilayah siklon tropis, bibit siklon tropis, dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.
