BRIN Kaji Transformasi Digital Agromaritim dan Agroindustri

Ilustrasi sapi. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Transformasi digital telah menjadi kekuatan utama dalam mendorong kemajuan di berbagai sektor, termasuk sektor pertanian dan kemaritiman.

Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji hal ini dalam kegiatan Webinar PRMC #5 dengan topik “Peran Strategis Mekatronika, Mesin Cerdas, dan Sistem Otonom dalam Mendorong Transformasi Digital 4.0”, pada Kamis (28/8).

Dalam era Revolusi Industri 4.0, sektor Agromaritim dan Agroindustri mengalami perubahan signifikan melalui integrasi teknologi digital seperti mekatronika, mesin cerdas, dan sistem otonom. 

Kepala Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN, Yanuandri Putrasari, mengatakan,  perkembangan teknologi atau perkembangan apapun itu sekarang paling tren disisipi dengan kecerdasan buatan.

Kemudian dengan otomasi tidak bisa dipungkiri kegiatan agromaritim dan bidang pertanian saat ini, adanya otomasi-otomasi dalam peralatan pertanian, “itu semua bisa didukung dengan kecerdasan buatan dan sistem otomasi,” kata Yanuandri.

Kegiatan webinar ini menghadirkan dua narasumber dari IPB University dengan topik strategis yang mengaitkan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan sistem otonom dengan sektor agroindustri maupun agromaritim.

Webinar ini, menurut Yanuandri, bertujuan untuk menyampaikan hasil-hasil riset penelitian, kemudian penyampaian ilmu wawasan kepada masyarakat luas, serta menjadi wadah munculnya networking.

“Kami Pusat Riset Mekatronika Cerdas bisa semakin meningkatkan ataupun menjalin kerja sama dengan tim dari IPB, serta bisa saling bertukar informasi perkembangan terkini terkait teknologi yang kita bahas di webinar kali ini,” kata Yanuandri. 

Akademisi IPB University Heru Sukoco menjelaskan mengenai implementasi AI pada jaringan dan sistem komputer (CSN) serta agromaritim 4.0.

Agromaritim 4.0 adalah konsep pengembangan pertanian, perikanan, kelautan, peternakan, pangan, dan lingkungan berbasis teknologi Revolusi Industri 4.0. Artinya, sektor agromaritim tidak lagi tradisional, tetapi berbasis teknologi digital, cerdas, presisi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, kata Heru.

Heru mengatakan sektor pertanian, perikanan, kelautan, hingga peternakan kini dituntut untuk beradaptasi dengan digitalisasi dan smart system.

Terkait dengan AI, Heru menyebutkan ada kategori sistem berdasarkan tingkat kecerdasan, kemampuan adaptasi, serta tujuan dan cara kerja pengendaliannya. Salah satu implementasinya di sistem otonom.

Melalui payung penelitian Agromaritim 4.0 IPB University, Heru mencontohkan beberapa riset inovatif yang sedang dikembangkan. Di antaranya MATA-SAPI (Manajemen Ternak Sapi Pintar) yang memanfaatkan sensor IoT untuk pemantauan kondisi ternak secara real-time, Prediksi Kematangan Mangga yaitu sistem cerdas untuk memperkirakan kualitas dan kematangan buah tropika guna mendukung ekspor hortikultura, hingga Cassava Smart Production (Cassmatech – IPB Prima) pengembangan IoT untuk pengelolaan tanaman cassava dan irigasi untuk sistem produksi pintar.

Selain itu, Heru juga menjelaskan implementasi AI pada sistem komputer dan jaringan (CSN) yang mampu meningkatkan keamanan, efisiensi, serta otomatisasi manajemen jaringan.

“Integrasi AI dalam Agromaritim 4.0 memungkinkan prediksi cuaca, optimasi produksi, serta pemantauan data secara real-time untuk mendukung transformasi digital yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Heru, Integrasi AI dapat mempercepat pengambilan keputusan dan mendorong transformasi digital yang berkelanjutan di sektor teknologi dan pertanian.

Sementara itu, Dhani Satria Wibawa menjelaskan tentang peran otomasi dalam transformasi menuju agroindustri cerdas. Transformasi digital di agroindustri itu penting.

Ada 3 (tiga) poin utama, pertama ada tantangan global yang meliputi populasi dunia dan perubahan iklim yang mengancam ketahanan pangan.

Kedua ada solusi digital meliputi presisi dan efisiensi teknologi seperti IoT dan AI memungkinkan penggunaan sumber daya secara optimal. Dan poin ketiga ada agroindustri cerdas yang tidak hanya otomasi tetapi juga integrasi data lintas sektor (rantai pasok, logistik, pemasaran).

“Konsep Agroindustri Cerdas meliputi empat pilar utama yaitu Iot dan Sensor, Big Data dan AI, Robotika dan Otomasi, serta Blockchain,” kata Dhani.

Dhani menjelaskan otomasi adalah kunci menuju agroindustri cerdas yang efisien dan berkelanjutan. Otomasi berperan dalam agroindustri untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya tenaga kerja, mempercepat proses produksi, dan memastikan konsistensi kualitas hasil pertanian. 

“Contoh studi kasus pada Smart Algae Pond menjadi bukti nyata bahwa integrasi IoT dan kontrol otomatis mampu meningkatkan produktivitas biomassa hingga 30% dengan efisiensi biaya tenaga kerja,” ujar Dhani, kolaborasi riset, industri, dan pemerintah sangat penting untuk mempercepat adopsi teknologi ini.

Exit mobile version