Profesor Riset Bidang Entobiologi BRIN, Purwanto, dalam presentasinya menjelaskan sejarah dan ruang lingkup etnobiologi sejak 1935.
Menurut Purwanto etnobiologi masa kini fokus pada kolaborasi antar disiplin dan mengarah pada pengembangan konsep biocultural diversity.
Sebagai bagian dari etnobiologi, kata Purwanto, tahapan studi etnoekologi bertujuan memahami bagaimana masyarakat berinteraksi dengan lingkungannya.
Purwanto menjelaskan deskripsi rinci kondisi aktual ekosistem, lalu rekonstruksi pola pikir masyarakat tentang lingkungannya.
Berikutnya, studi aktivitas produksi, kajian ekologis, analisis multi inter transdisipliner dan berakhir di solusi, konsep atau model pengelolaan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Heru Dwi Riyanto mencontohkan upaya pemanfaatan salah satu spesies terancam kepunahan kategori IUCN oleh masyarakat lokal, yaitu Diptericarpus retusus.
Spesies langka yang dikenal dengan sebutan meranti jawa berdasarkan hasil kajiannya sudah dimanfaatkan secara tradisional turun temurun oleh masyarakat lokal di jawa, Sumatra, dan Kalimantan.
Heru melakukan perbanyakan bibit bersama masyarakat lokal dan ditanam di beberapa kawasan konservasi di Jawa.
Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi lainnya, Yohanis Ngongo menjelaskan hasil riset etnoekologi dan pelestarian sumber daya pertanian di wilayah semi arid, yaitu di Nusa Tenggara.





Komentar tentang post