Darilaut – Institut Teknologi Bandung (ITB) sedang mengembangkan hand sanitizer yang dibuat dengan memanfaatkan senyawa xanthorrhizol dari temulawak. Produk pembersih tangan dengan nama Xantis tersebut buatan Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB.
Seperti dilansir Itb.ac.id, hand sanitizer yang dibuat di Laboratorium Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ini dikembangkan Kepala Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB Dr Elfahmi. Kemudian, dosen Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Dr Husna Nugrahapraja dan Postdoctoral di PP Biosains dan Bioteknologi selaku Asisten Riset Dr Agus Chahyadi dan mahasiswa S2 Keilmuan Farmasi ITB.
Xantis merupakan hand sanitizer yang menggunakan formula standard dari World Health Organization (WHO) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia. Riset dan pengembangan produk hand sanitizer ini memanfaatkan senyawa aktif dari bahan alami.
“Secara keseluruhan hand sanitizer ini memiliki kandungan alkohol 70 persen, hidrogen peroksida, gel aloe vera, serta pewangi natural dari citrus dan fraksi kaya xanthorrhizol,” ujar Elfahmi seperti dikutip Itb.ac.id, Jumat (20/3).
Produk hand sanitizer Xantis ini memiliki keunggulan karena terbuat dari senyawa xanthorrhizol yang diambil dari temulawak dengan cara fraksi yang diisolasi dan dipisahkan dari temulawak. Berdasarkan hasil penelitian, senyawa xanthorrhizol ini memiliki aktivitas antimikroba yang efektif.
Riset ini menemukan cara mudah dan murah untuk mendapatkan senyawa xanthorrhizol dari temulawak.
“Xantis sudah digunakan untuk pemakaian internal masyarakat ITB saja dan masih dilakukan pengembangan produk ini dan sedang diupayakan dilakukan pendaftaran izin edar agar bisa digunakan lebih luas oleh masyarakat, terutama pada masa-masa kritis kasus corona saat ini,” ujar Elfahmi.
Riset berkelanjutan untuk mengembangkan hand sanitizer terus dilakukan. Namun, untuk sampai dijual ke pasar, perlu dilakukan komunikasi bersama dengan Kementerian Kesehatan untuk bekerja sama, serta dengan industri yang mempunyai sertifikat produksi antiseptik.
Sebab hal tersebut yang menjadi syarat legal untuk produk hand sanitizer sehingga dapat diedarkan di kalangan umum.
Karena kondisi pandemi virus corona, Covid-19, ditambah semakin minimnya stok hand sanitizer di toko-toko, masyarakat belajar membuat sendiri di rumah karena mudah.*
