Darilaut – Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menampilkan rata-rata konsentrasi harian PM2.5 di permukaan wilayah Indonesia dan Benua Maritim. Hal ini berdasarkan prakiraan operasional CAMS antara 1 dan 31 Agustus 2026, seperti dalam gambar tulisan ini.
CAMS – salah satu komponen layanan informasi tentang komposisi atmosfer dalam program Copernicus milik Uni Eropa — menyediakan informasi terkini mengenai aktivitas kebakaran hutan dan emisi yang dihasilkannya, sehingga membantu dalam menilai dampaknya terhadap komposisi atmosfer dan kualitas udara.
Melansir Atmosphere.copernicus.eu kebakaran hebat mulai terjadi di Indonesia pada akhir Juli, bertepatan dengan awal musim kemarau.
Meskipun kebakaran sering terjadi di Indonesia pada periode ini, kondisi yang lebih panas dan kering akibat awal fenomena El Niño memicu peningkatan signifikan dalam emisi dan polusi asap, selaras dengan pola yang terjadi pada tahun-tahun El Niño sebelumnya.
Kebakaran hebat telah terjadi di Indonesia di semua tahun El Niño terkini (1997, 2005, 2006, 2015, 2019, 2023), dan tahun 2026 tampaknya tidak akan menjadi pengecualian.
Indonesia telah mencatat tingkat emisi yang termasuk tertinggi dalam 24 tahun terakhir untuk periode Januari-September, menurut CAMS.
CAMS mengatakan kebakaran tersebut terutama terkonsentrasi di Pulau Kalimantan serta di provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Wilayah ini memiliki lahan gambut luas yang sangat sulit ditangani begitu kebakaran besar mulai terjadi.
Kebakaran tersebut berdampak signifikan terhadap kualitas udara di wilayah itu dan memaparkan penduduk pada konsentrasi PM2.5 yang mencapai ratusan µg/m³.
Pemantauan PM2.5 (Particulate Matter atau konsentrasi partikulat) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer).
Melintas Batas Negara
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2026 telah melintasi batas negara dan memengaruhi sejumlah wilayah di Asia Tenggara. Hasil simulasi penyebaran partikel halus PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia memungkinkan terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ardhi Adhary Arbain, mengatakan, PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Karena ukurannya, partikel ini menjadi salah satu perhatian penting dalam persoalan kualitas udara.
”Ketika terbawa angin melintasi wilayah negara, persoalan tersebut berkembang menjadi polusi lintas batas atau transboundary PM2.5,” ujar Ardhi, Jumat (2/10).
Untuk memahami bagaimana polutan tersebut bergerak, Ardhi menggunakan WRF-Chem, yaitu model atmosfer yang menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer. Data emisi dari berbagai sumber dimasukkan ke dalam model bersama informasi meteorologi untuk mensimulasikan penyebaran dan perubahan polutan di atmosfer.
Dalam penelitian ini, data emisi kebakaran juga dikombinasikan dengan data penginderaan jauh, antara lain dari Sentinel dan MODIS/VIIRS, untuk membangun inventori emisi PM2.5.
Menurut Ardhi hasil simulasi awal memperlihatkan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak. Pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke arah timur laut setelah melewati ekuator.
“Pola tersebut memungkinkan PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand,” ujar Ardhi seperti dikutip dari Brin.go.id.
Simulasi juga memperlihatkan konsentrasi PM2.5 yang tinggi di sejumlah wilayah sumber, terutama Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di beberapa lokasi dekat sumber kebakaran, konsentrasi hasil simulasi bahkan mencapai lebih dari 7.500 mikrogram per meter kubik, sementara pada titik tertentu nilai maksimum simulasi pada akhir Agustus mencapai lebih dari 12.000 mikrogram per meter kubik.
Ketika dibandingkan dengan Agustus 2015, sebaran PM2.5 pada 2026 dalam simulasi terlihat lebih terlokalisasi, tetapi konsentrasi di sejumlah titik sumber diperkirakan lebih tinggi. Terdapat pula indikasi penambahan kontribusi sumber polutan, yaitu Papua Selatan yang terlihat lebih dominan dibandingkan 2015.
Ardhi mengatakan bahwa hasil tersebut masih merupakan hasil penelitian yang sedang dikembangkan dan belum divalidasi. Artinya, hasil simulasi belum dibandingkan secara menyeluruh dengan data pengamatan lapangan untuk mengetahui tingkat akurasi model.
