Darilaut – Kebakaran hutan dan lahan masiH terus berlangsung di Indonesia. Kebakaran ini melepas asap dalam jumlah besar yang menutup seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Citra Copernicus Atmosphere Monitoring Service menampilkan penyebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan tersebut.
Sejak akhir Juli 2026, kebakaran hutan dan lahan—yang mencakup hutan, lahan pertanian, serta lahan gambut di Indonesia—telah melepaskan asap dalam jumlah besar.
Hal ini memengaruhi kualitas udara di seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura.
Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), emisi akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dari Januari hingga September 2026 tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
Dalam citra yang diambil dari aplikasi CAMS Fire Emissions Watch, data prakiraan CAMS untuk tanggal 20 Oktober 2026 pukul 09.00 UTC memperlihatkan kepulan asap luas yang menyelimuti kawasan tersebut.
Area berwarna ungu paling pekat menunjukkan konsentrasi asap terpadat di wilayah Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, dan Papua bagian selatan.
Sementara itu, warna merah muda yang lebih terang menunjukkan sebaran asap yang lebih tipis, yang meluas hingga ke Samudra Hindia, daratan Asia Tenggara, dan wilayah Pasifik bagian barat.
Copernicus Atmosphere Monitoring Service menyediakan pemantauan dan prakiraan komposisi atmosfer secara hampir waktu nyata (near-real-time), yang membantu melacak penyebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan, serta menjadi dasar bagi pemberian imbauan kesehatan masyarakat.
Kebakaran hutan dan lahan serta pembakaran biomassa melepaskan berbagai macam polutan, termasuk partikulat halus, nitrogen oksida, serta banyak senyawa organik yang mudah menguap (VOC) dan gas rumah kaca.
Meskipun emisi global akibat pembakaran biomassa telah menurun dalam beberapa dekade terakhir, paparan global terhadap asap kebakaran hutan justru meningkat akibat kebakaran yang lebih ekstrem di dekat wilayah berpenduduk.
Setelah dilepaskan ke atmosfer, polutan ini dapat terbawa jauh dari lokasi kebakaran, mengubah situasi darurat lokal menjadi episode kualitas udara berskala regional atau benua. Reaksi kimia di dalam gumpalan asap juga dapat menghasilkan polutan sekunder—termasuk ozon, sebagaimana dibahas pada bagian sebelumnya—yang dapat memberikan dampak tambahan terhadap kualitas udara.
Hampir 2 Juta Hektare Terbakar
Sepanjang tahun 2026, hingga Oktober ini, area hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia hampir 2 juta hektare. Adapun jumlah titik panas (hotspots) kebakaran hingga 20 Oktober lebih dari 1,1 juta.
Secara kumulatif area terbakar terluas di Papua Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur.
Jumlah titik panas Kebakaran per hari dalam setahun terbanyak di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Papua Selatan, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Maluku Utara.
Data Nusantara Atlas menyebutkan Januari hingga Selasa (20/10) pagi, titik panas kebakaran sebanyak 1,146,209 dengan luas area yang terbakar 1,916,588 hektare.
Jika dibandingkan dengan tahun 2019 jumlah titik panas 885,037, sedangkan luas area yang terbakar 2,631,469 hektare.
Nusantara Atlas menyajikan dua statistik area terbakar yang saling melengkapi: luas area terbakar (burned extent) dan total luas area terbakar kumulatif (cumulative burned area). Total luas area terbakar kumulatif menghitung kejadian kebakaran berulang; artinya, area yang sama akan dihitung kembali jika terbakar pada tahun yang berbeda atau dalam beberapa kejadian terpisah.
Sebaran Asap Lintas Negara
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada 2026 telah melintasi batas negara dan memengaruhi sejumlah wilayah di Asia Tenggara. Hasil simulasi penyebaran partikel halus PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia memungkinkan terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ardhi Adhary Arbain, mengatakan, PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Karena ukurannya, partikel ini menjadi salah satu perhatian penting dalam persoalan kualitas udara.
”Ketika terbawa angin melintasi wilayah negara, persoalan tersebut berkembang menjadi polusi lintas batas atau transboundary PM2.5,” ujar Ardhi, Jumat (2/10).
Untuk memahami bagaimana polutan tersebut bergerak, Ardhi menggunakan WRF-Chem, yaitu model atmosfer yang menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer. Data emisi dari berbagai sumber dimasukkan ke dalam model bersama informasi meteorologi untuk mensimulasikan penyebaran dan perubahan polutan di atmosfer.
Titik Panas
Cuaca panas dan kering masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat selama periode 16–19 Oktober 2026, perkembangan titik panas (hotspot) menunjukkan jumlah yang fluktuatif dengan kecenderungan meningkat, terutama di Kalimantan.
Berdasarkan pemantauan BMKG 19 Oktober 2026, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah melonjak dari 157 menjadi 937 titik, Kalimantan Barat dari 31 menjadi 231 titik, dan Sumatera Selatan dari 19 menjadi 66 titik dibandingkan hari sebelumnya. Peningkatan juga terpantau di Jawa Timur dari 10 menjadi 36 titik.
Peningkatan jumlah hotspot tersebut juga berlangsung bersamaan dengan terdeteksinya sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG.
