Rabu, April 22, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

DFW: Menangkap Ikan Dekat Rig Migas Membahayakan Nelayan

redaksi
6 Agustus 2018
Kategori : Berita
0
DFW: Menangkap Ikan Dekat Rig Migas Membahayakan Nelayan

Perusahaan minyak Medco di Natuna. FOTO: DOK. MEDCO

Jakarta – Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia, Moh Abdi Suhufan mengatakan, kegiatan menangkap ikan dekat rig (platform) minyak dan gas (migas) akan mengancam keselamatan nelayan.

Saat ini, terdapat indikasi meningkatnya aktivitas nelayan tradisional di sekitar rig dengan perimeter yang melanggar ketentuan. “Ini sangat berbahaya,” kata Abdi, Senin (6/8).

Studi khusus yang dilakukan DFW di Anambas menemukan bahwa nelayan seringkali melakukan aktvitas di sekitar rig milik Medco. Selain Anambas, kasus serupa terjadi di Pantura dan Madura.

Hal ini tentunya membahayakan keselamatan nelayan, karena berpotensi menimbulkan accident di laut. Pemerintah dan stakeholder terkait perlu melakukan aksi dan program bersama untuk memberikan perlindungan kepada nelayan tradisional agar tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan di sekitar rig.

Selama ini, nelayan berkegiatan di sekitar rig karena dianggap sebagai daerah fishing ground. Selain itu, sebagai perlintasan nelayan dan tempat berteduh jika cuaca buruk.

Akitivtas ini berpotensi menimbulkan kecelakaan di laut. Ketika berada di laut, nelayan membawa bahan bakar, merokok dan kegiatan memasak di atas perahu.

Posisi nelayan ini berdekatan dengan operasional pengolahan gas di rig. “Kegiatan nelayan di sekitar rig ini berpotensi menimbulkan accident,” kata Abdi.

Untuk itu, menurut Abdi, upaya yang perlu dilakukan, antara lain memberikan mitigasi dan perlindungan kepada nelayan dalam beraktivitas di laut. Kemudian, menjaga agar operasional obyek vital nasional yang bersifat strategi di laut.

Pemerintah daerah perlu meningkatkan kesadaran nelayan untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar rig migas di Anambas.

Terdapat sekitar 9 sampai 10 rig/platform yang menjadi sasaran nelayan tradisional dalam menangkap ikan. Seperti di Anambas, ada dua jenis ukuran kapal yang digunakan untuk melaut. Pertama, kapal dengan ukuran 3 – 5 GT dengan modal kerja Rp 1,5 sampai 3 juta. Waktu menangkap ikan 5 sampai 7 hari.

Kedua, kapal dengan ukuran 7 – 8 GT, dengan modal kerja Rp 3 sampai 4 juta, dengan waktu menangkap ikan 7 sampai 10 hari. Kapal ikan tersebut berisi 2 – 3 nelayan, terdiri dari nahkoda dan dua nelayan.

Yang sering melakukan penangkapan ikan didekat rig, ada sekitar 124 armada tangkap di Anambas.

Peneliti DFW-Indonesia, Hartono mengatakan perlu ada upaya sinergis antara pemerintah daerah, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) dan Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas untuk membuat program bersama. Tujuannya, agar nelayan bisa memahami potensi bahaya jika beraktivitas di sekitar rig/platform.

“Pemerintah daerah berkepentingan untuk memberikan perlindungan maksimal kepada para nelayan agar dapat beraktivitas secara bertanggungjawab dan mengutamakan keselamatan di laut dengan sosialisasi dan pendampingan yang intensif,” kata Hartono.

Menurut Hartono, perlu didorong adanya kesepakatan dan kesepahaman bersama di tingkat nelayan agar tidak melakukan penangkapan ikan pada batas perimeter yang ditentukan. Sebagai pemilik rig/platform K3S perlu melengkapai batas dan tanda-tanda di sekitar rig.

“Dengan tanda tersebut, nelayan tradisional bisa melihat batas aman dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan,” katanya.*

Tags: AnambasDFW-IndonesiaMedco
Bagikan6Tweet4KirimKirim
Previous Post

Episenter Gempa Lombok di Darat, Tetapi Menimbulkan Tsunami

Next Post

Foto: Monitoring Kima di Kapoposang

Postingan Terkait

UTBK-SNBT 2026 di UNG Berlangsung di Kota Gorontalo dan Bone Bolango

UTBK-SNBT 2026 di UNG Berlangsung di Kota Gorontalo dan Bone Bolango

22 April 2026
Bawa Sampel Tanah Dari Buol Imigrasi Gorontalo Deportasi 4 WNA Asal Cina

Bawa Sampel Tanah Dari Buol Imigrasi Gorontalo Deportasi 4 WNA Asal Cina

22 April 2026

20.000 Pelaut dan 2.000 Kapal Masih Terdampar di Selat Hormuz

Hari Bumi Sebagai Pengingat Cara Mengatasi Krisis Lingkungan

5.504 Peserta Mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNG

Hujan Tidak Merata di Berbagai Wilayah di Indonesia

Warek UNG: Pengawas Kunci Menjaga Integritas UTBK-SNBT

Papan Informasi Wisata yang Buruk Dapat Merusak Citra Destinasi

Next Post
Foto: Monitoring Kima di Kapoposang

Foto: Monitoring Kima di Kapoposang

Komentar tentang post

TERBARU

UTBK-SNBT 2026 di UNG Berlangsung di Kota Gorontalo dan Bone Bolango

Bawa Sampel Tanah Dari Buol Imigrasi Gorontalo Deportasi 4 WNA Asal Cina

20.000 Pelaut dan 2.000 Kapal Masih Terdampar di Selat Hormuz

Hari Bumi Sebagai Pengingat Cara Mengatasi Krisis Lingkungan

5.504 Peserta Mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNG

Hujan Tidak Merata di Berbagai Wilayah di Indonesia

AmsiNews

REKOMENDASI

Paus Right, Beberapa Kapal Menolak Aturan Pembatasan Kecepatan

Ketua Umum SNPMB: Peserta Lulus Seleksi Jalur SNBT Segera Registrasi Ulang

818 ABK Indonesia Tiba di Tanjung Priok

Riset Jadi Solusi Menyelamatkan Pantura dan Jakarta

Hujan Deras di Korea Selatan Menyebabkan 22 Orang Tewas, 14 Hilang

Kemdiktisaintek Dorong Aktivitas Perguruan Tinggi Berkontribusi di Kawasan

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.