Darilaut – Evaluasi keberhasilan restorasi terumbu karang lebih banyak bertumpu pada indikator yang mudah diamati, di antaranya adalah pertumbuhan dan tutupan karang.
Padahal, efektivitas terumbu buatan yang lebih penting dengan memastikan fungsi ekosistemnya benar-benar pulih.
”Penelitian ini memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat untuk mengevaluasi efektivitas restorasi sekaligus mendukung penyusunan strategi konservasi yang lebih berkelanjutan,” kata peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Zach Boakes.
Hal ini disampaikan dalam Coffee Morning yang diselenggarakan PRIMA BRIN, secara daring pada Jumat (10/7).
Zach, peneliti pascadoktoral asal Inggris menjelaskan hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Marine Biology.
Untuk menjawab pertanyaan mengenai efektivitas terumbu buatan dalam mengembalikan kehidupan bawah laut seperti pada terumbu karang alami, tim peneliti melakukan studi di Teluk Tianyar, Bali Utara.
Penelitian tersebut berlangsung selama lima tahun, mulai 2020 hingga 2024.
Tim peneliti membandingkan tiga tipe habitat, yaitu terumbu karang alami, kawasan terumbu buatan, dan dasar laut berpasir yang merupakan bekas terumbu karang yang telah mengalami degradasi.
Untuk mengamati komunitas ikan, peneliti menggunakan metode Remote Underwater Video (RUV) atau kamera bawah air yang merekam aktivitas ikan tanpa mengganggu perilaku alaminya.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terumbu buatan telah dihuni komunitas ikan yang menyerupai terumbu karang alami hanya dalam waktu sekitar satu hingga tiga tahun setelah pemasangan.
Dibandingkan dasar laut berpasir yang rusak, keberadaan terumbu buatan mampu meningkatkan keanekaragaman ikan secara signifikan.
Terumbu buatan telah banyak dimanfaatkan sebagai salah satu upaya memulihkan ekosistem terumbu karang yang rusak.
Namun, efektivitasnya dalam mengembalikan fungsi ekosistem dan kehidupan bawah laut masih menjadi pertanyaan yang terus dikaji para peneliti.
“Penelitian jangka panjang merupakan kunci dalam menghasilkan rekomendasi ilmiah yang dapat mendukung pengelolaan ekosistem yang berketahanan iklim,” ujar Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Albertus Sulaiman, seperti dikutip dari Brin.go.id.
