El Niño Akan Memicu Berbagai Ancaman Bahaya

Kekeringan di Afrika Selatan. FOTO: WMO

Darilaut – Fenomena El Niño yang kian menguat diperkirakan akan memengaruhi suhu, curah hujan, dan pola siklon tropis di seluruh wilayah Samudra Hindia bagian Barat Daya.

Kondisi ini dapat berdampak pada sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim serta seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Menurut South-West Indian Ocean Climate Outlook Forum atau Forum Prakiraan Iklim Samudra Hindia bagian Barat Daya, tidak ada satu skenario dampak tunggal bagi wilayah ini. Oleh karena itu, forum tersebut mendesak pemerintah dan masyarakat untuk bersiap menghadapi berbagai ancaman bahaya.

Melansir Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) prakiraan iklim ini mencakup periode Oktober–Desember 2026 dan Januari–Maret 2027.

Wilayah bagian selatan perlu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, tekanan ketersediaan air, dan risiko ketahanan pangan; wilayah utara yang lebih basah perlu bersiap menghadapi banjir dan tanah longsor. Sementara negara-negara kepulauan memerlukan pendekatan multi-bahaya yang fleksibel, mencakup antisipasi terhadap suhu ekstrem, curah hujan tinggi, dampak kelautan, serta risiko siklon tropis.

Prakiraan ini juga menyoroti potensi dampak signifikan terhadap pertanian dan ketahanan pangan, sumber daya air, kesehatan, ekosistem laut, serta perikanan.

Kekeringan dan suhu panas dapat menurunkan produktivitas pertanian dan meningkatkan tekanan ketersediaan air di wilayah selatan, sedangkan curah hujan berlebih dapat menyebabkan banjir, kerusakan tanaman, dan pencemaran air.

Forum ini diselenggarakan oleh Badan Meteorologi Seychelles pada tanggal 15–17 September. Acara ini mempertemukan para anggota dari seluruh wilayah tersebut, termasuk Komoro, La Réunion (Prancis), Madagaskar, Malawi, Mauritius, Mozambik, Seychelles, Afrika Selatan, dan Republik Bersatu Tanzania.

Analisis ini mempertimbangkan kondisi El Niño yang kian menguat serta faktor pendorong iklim regional lainnya, terutama Indian Ocean Dipole (Dipol Samudra Hindia) yang sedang beralih dari kondisi netral menuju fase positif, dan—di bagian selatan cekungan samudra— Subtropical Indian Ocean Dipole yang sedang beralih dari fase positif ke fase netral.

Secara ringkas, dampak utama yang diperkirakan terjadi pada periode Oktober 2026 hingga Maret 2027 adalah:

• Kondisi yang lebih kering dan peningkatan risiko kekeringan di wilayah bagian selatan, khususnya Afrika Selatan, wilayah selatan dan tengah Mozambik, Malawi, serta wilayah barat daya Madagaskar. Hal ini dapat meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, lahan penggembalaan, sumber daya air, ketahanan pangan, dan mata pencaharian.

• Kondisi yang lebih basah dan peningkatan risiko banjir di sebagian wilayah utara, khususnya Tanzania, Malawi bagian utara, Seychelles, dan sebagian Kepulauan Mascarene, disertai risiko banjir, banjir bandang, tanah longsor, gangguan infrastruktur, dan pencemaran air.

• Pola curah hujan yang bervariasi di Madagaskar; wilayah utara dan timur kemungkinan besar mengalami curah hujan normal hingga di atas normal, sementara wilayah barat daya lebih rentan terhadap curah hujan di bawah normal dan tekanan akibat kekeringan.

• Suhu di atas normal di seluruh wilayah, dengan peningkatan kemungkinan yang signifikan terjadinya suhu yang sangat tinggi.

• Aktivitas siklon tropis di bawah normal secara keseluruhan untuk cekungan Samudra Hindia Barat Daya, yang dipengaruhi oleh El Niño. Jalur siklon diperkirakan akan bergeser ke arah selatan, yang berpotensi mengurangi risiko siklon mencapai daratan (landfall) bagi Madagaskar dan Mozambik, sementara risiko siklon di Kepulauan Mascarene tetap mendekati normal. Penting untuk dicatat bahwa aktivitas di bawah normal di tingkat cekungan tidak berarti tidak adanya risiko siklon secara lokal.

Exit mobile version