El Niño Masih Sangat Kuat, Anomali Suhu Muka Laut Mencapai +3,33°C

Ilustrasi laut. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan panas dan kering di sebagian wilayah Indonesia, sementara hujan lokal masih berpeluang terjadi.

Pemantauan iklim BMKG pada awal Oktober 2026 memperlihatkan bahwa El Niño masih berlangsung dengan intensitas sangat kuat.

Hal ini terlihat dari anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 yang mencapai +3,33°C serta indeks ENSO tiga bulanan periode Agustus-September-Oktober (ASO) sebesar +3,08, menurut BMKG.

Pada saat yang sama, kara BMKG, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat +0,703, relatif mendekati nilai indeks bulanan September sebesar +0,72.

Kondisi ini menunjukkan bahwa El Nino kategori sangat kuat dan IOD Positif masih cenderung mengurangi potensi pembentukan awan hujan di wilayah indonesia.

Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengatakan sekitar 76% Zona Musim (ZOM) di Indonesia masih mengalami musim kemarau, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, sementara 8% telah memasuki musim hujan.

Kondisi ini berpotensi memperpanjang kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah yang masih minim hujan, khususnya Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta Papua Selatan.

Meskipun curah hujan secara umum diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, kata BMKG, hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

Hal ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang dapat mendukung pembentukan awan hujan dalam waktu yang relatif singkat.

BMKG menjelaskan bahwa aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif di sebagian Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diperkirakan aktif di Samudra Hindia sebelah barat Sumatera, sedangkan Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di sebagian Sumatera Selatan, Bangka Belitung, sebagian besar wilayah Kalimantan, pesisir selatan Jawa, sebagian besar Sulawesi, NTT, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Aktivitas gelombang atmosfer tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan secara lokal, meskipun kondisi curah hujan secara umum masih cenderung rendah.

Selain itu adanya pola pertemuan dan perlambatan angin di sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua turut mendukung pemusatan massa udara serta pertumbuhan awan hujan. Suhu muka laut yang relatif hangat di perairan sekitarnya juga berkontribusi terhadap ketersediaan uap air di atmosfer.

Kombinasi faktor tersebut berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang secara lokal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami kondisi kering pada skala dasarian, hujan signifikan tetap berpeluang terjadi pada skala harian di wilayah yang didukung dinamika atmosfer regional maupun lokal.

Pada periode 16 – 18 Oktober 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian hujan lebat – sangat lebat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kep. Bangka Belitung, Papua Barat Daya, dan Papua. Angin kencang: di Lampung, Banten, dan Jawa Barat.

Periode 19 – 22 Oktober 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian hujan lebat – sangat lebat di Aceh dan Sumatera Barat.

Angin Kencang: Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Papua Selatan.

Exit mobile version