Darilaut – El Niño akan menambah panas ekstra pada iklim yang memang sudah mengalami pemanasan. Sebelas tahun terakhir tercatat sebagai tahun-tahun terpanas yang pernah ada.
Artinya, El Niño kini memperkuat suhu di atas tingkat dasar (baseline) yang sudah jauh lebih tinggi.
Meningkatnya panas di lautan menimbulkan kekhawatiran bagi sektor perikanan—tidak hanya di Peru, tempat penangkapan ikan anchoveta dihentikan sementara demi menjaga stok—tetapi di seluruh wilayah Pasifik.
Risiko terjadinya gelombang panas laut (marine heatwaves) dan pemutihan karang yang parah memicu kekhawatiran, tidak hanya terkait dampak lingkungan, tetapi juga dampaknya terhadap pendapatan masyarakat nelayan dan industri perikanan secara lebih luas.
Di kawasan Pasifik mencatat aktivitas siklon tropis yang sangat tinggi, yang dipicu oleh suhu air laut yang hangat.
Badai Trudy, misalnya, sempat menguat pada tanggal 16 Oktober saat bergerak menuju pesisir Meksiko.
Badai ini merupakan bagian dari serangkaian badai yang mengancam sektor perikanan, produksi pertanian, serta transportasi komoditas pertanian dan pangan. Suhu yang lebih tinggi dari biasanya.
Suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur diperkirakan akan meningkat hingga mencapai rekor tertinggi selama periode Oktober-November-Desember 2026.
Musim badai di Atlantik berlangsung sangat tenang, sehingga para petani terhindar dari amukan angin dan banjir. Namun, selama masa peralihan dari musim basah dan panas di Karibia, fenomena El Niño yang sangat kuat dapat memicu perluasan kondisi kekeringan, yang berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air.
Hari Pangan Sedunia (World Food Day) tanggal 16 Oktober diperingati di tengah fenomena El Niño yang kian menguat.
Fenomena ini memicu perubahan signifikan pada pola curah hujan—mulai dari kekeringan ekstrem hingga banjir besar—serta berdampak pada sektor pertanian, perikanan, dan produksi pangan.
Laporan gabungan FAO-WMO mengenai Panas Ekstrem dan Pertanian menunjukkan bahwa kenaikan suhu dan gelombang panas yang lebih sering terjadi dapat menurunkan hasil panen, menambah jumlah jam kerja yang tidak aman bagi pekerja pertanian, menyebabkan tekanan pada ternak, serta berkontribusi terhadap gelombang panas laut yang berdampak pada sektor perikanan dan ekosistem laut.
