Darilaut – El Niño Event berpotensi semakin menguat pada tahun ini. Kondisi ini dapat menghambat proses pembentukan awan hujan dan semakin memperkuat kecenderungan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan indikasi titik api, khususnya bagi wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Bagi wilayah yang masih berpotensi mengalami hujan signifikan akibat pengaruh dinamika atmosfer, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melakukan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan. Selain itu, masyarakat juga perlu menghindari pohon, baliho, dan bangunan rapuh saat terjadi angin kencang, serta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG.
Menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG dominasi kondisi kering yang terjadi saat ini selaras dengan perkembangan dinamika iklim global. Indeks Niño 3.4 dasarian masih tercatat sebesar +2.26, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -28,2.
Indikator tersebut mengindikasikan El Niño Event dengan intensitas kuat dan berpotensi semakin menguat pada tahun ini, kata BMKG.
Hasil pemantauan BMKG pada Dasarian II Juli 2026 menunjukkan bahwa musim kemarau terus meluas dan kondisi kering semakin mendominasi wilayah Indonesia. Curah hujan kategori rendah tercatat mencakup 92,93% wilayah, sedangkan kategori menengah sebesar 6,63% dan kategori tinggi hanya 0,45%.
Kondisi ini juga tercermin dari sifat hujan, dimana 89,97% wilayah didominasi kategori bawah normal. Hingga periode tersebut, sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 72,8% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Dampak kondisi kering mulai terlihat dari adanya laporan kekeringan pada periode 24 – 27 Juli 2026 di Jawa Tengah serta kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Situasi ini menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap berkurangnya ketersediaan air, meluasnya titik panas, dan potensi kebakaran di lahan yang mudah terbakar.
Di tengah dominasi musim kemarau, hujan lebat masih terjadi secara lokal di sejumlah wilayah. Pada periode 24 – 27 Juli 2026, hujan lebat hingga sangat lebat masih tercatat di Sumatera Utara (128 mm/hari), Sumatera Barat (116 mm/hari), Kalimantan Utara (88 mm/hari), Papua (87 mm/hari), dan Aceh (65 mm/hari).
Kondisi tersebut didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpengaruh terhadap wilayah Sumatra bagian utara dan Sulawesi Tengah, serta aktivitas MJO yang secara spasial aktif di sebagian Sumatra bagian tengah hingga selatan, kata BMKG.
