El Niño Mengubah Warna Lautan

GAMBAR: Scientific Visualization Studio NASA

Darilaut – Perairan hangat akibat fenomena El Niño mengubah warna samudra. Sebuah satelit NASA (National Aeronautics and Space Administration) tengah melacak perubahan warna yang halus ini. Perairan di wilayah Pasifik khatulistiwa tercatat menjadi lebih biru selama beberapa bulan terakhir.

Matthew Kehrli, ilmuwan peneliti utama tim satelit PACE (Plankton, Aerosol, Cloud, ocean Ecosystem) di Goddard Space Flight Center milik NASA, yang berlokasi di Greenbelt, Maryland, menjelaskan bahwa banyak orang menganggap air laut hanya berwarna biru, padahal samudra sebenarnya memiliki beragam warna yang menakjubkan.

Keragaman warna ini sebagian besar disebabkan oleh organisme mikroskopis yang disebut fitoplankton, yang menjadi dasar dari jaring-jaring makanan laut. Terdapat ribuan spesies fitoplankton dengan berbagai corak warna, seperti biru kehijauan (teal), cokelat, atau hijau. Tahun ini, di wilayah Samudra Pasifik sepanjang khatulistiwa—yang biasanya kaya akan fitoplankton sehingga tampak lebih hijau—warna-warna tersebut justru mulai memudar.

Hal ini merupakan dampak yang memang diperkirakan terjadi akibat El Niño. Fitoplankton tumbuh subur di perairan yang dingin dan kaya nutrisi. Namun, saat terjadi El Niño, melemahnya angin pasat mengurangi proses naiknya air laut dalam yang kaya nutrisi ke permukaan. Akibat terbatasnya pasokan nutrisi, jumlah fitoplankton pun menurun. Penurunan ini dapat memicu dampak berantai di seluruh jaring makanan laut, yang memaksa biota laut lainnya untuk berpindah ke tempat mencari makan yang baru.

Peristiwa El Niño tahun ini merupakan yang pertama sejak peluncuran misi PACE pada tahun 2024, yang memberikan perspektif baru mengenai fenomena tersebut. Instrumen Ocean Color Instrument (OCI) yang terpasang pada satelit PACE mengamati lautan dalam spektrum warna yang sangat rinci—mencakup ratusan panjang gelombang cahaya tampak, inframerah dekat, dan ultraviolet—untuk memantau fitoplankton serta perubahan warna laut lainnya secara hampir waktu nyata (near-real time).

Dengan menggunakan data dari PACE, para peneliti menghitung warna rata-rata lautan dengan menyederhanakan spektrum cahaya menjadi satu angka, yang disebut sebagai panjang gelombang tampak semu (apparent visible wavelength).

Peta tahun 2026 menunjukkan area berwarna hijau di sepanjang khatulistiwa di Samudra Pasifik bagian barat menyusut dan digantikan oleh warna yang lebih biru, yang menandakan berkurangnya jumlah fitoplankton. Sebaliknya, peta dari tahun 2025 memperlihatkan bahwa bagian yang berwarna hijau tersebut tetap stabil dari waktu ke waktu.

“Kita mungkin sudah memiliki perkiraan tentang apa yang akan terjadi,” ujar Kehrli seperti dikutip dari Science.nasa.gov yang dituis Erica McNamee.

“Namun, melihat hasilnya secara langsung melalui data yang sedang kita olah secara waktu nyata sungguh memuaskan.”

Ilmuwan NASA akan terus memantau tanda-tanda serta dampak dari peristiwa El Niño ini dengan menggunakan rangkaian satelit pengamat Bumi mereka.

Menurut ilmuwan proyek untuk misi permukaan laut di Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan, Josh Willis, setiap kali terjadi, El Niño memengaruhi hampir kita semua dengan berbagai cara.

“Meskipun banyak orang telah melihat dampaknya, kami mengamati lautan untuk memahami penyebab di baliknya,” ujar Willis.

Sumber: Science.nasa.gov

Exit mobile version