El Niño Terkuat Tahun Ini Diprediksi Dapat Menyebabkan 451 Ribu Kematian di Berbagai Negara, Termasuk Indonesia

Suhu panas dan kekeringan. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Laporan terbaru dari Climate Impact Lab menyebutkan bahwa fenomena El Niño terkuat tahun ini diprediksi akan menyebabkan 451.000 kematian akibat hari-hari dengan suhu sangat panas.

Kematian akibat panas yang dipicu El Niño ini tersebut terkonsentrasi di wilayah Global South (negara-negara berkembang), termasuk Indonesia.

Angka ini merupakan tambahan di luar dampak kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir yang diperkirakan muncul akibat suhu yang lebih tinggi serta perubahan pola curah hujan. Hal ini mengingat El Niño berpotensi menjadi yang terkuat dalam catatan sejarah.

Laporan tersebut mengidentifikasi wilayah-wilayah dengan prediksi jumlah kematian tertinggi, sekaligus menunjukkan lokasi di mana tindakan segera dapat memberikan peluang terbesar untuk menyelamatkan nyawa.

Kita sudah lama mampu memprediksi dampak suhu terhadap tanaman pangan, dan kini kita dapat memprediksi dampaknya terhadap konsekuensi terburuk—yaitu kematian, kata Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab sekaligus Profesor Ekonomi Milton Friedman Distinguished Service di Universitas Chicago.

”Hasilnya, kita dapat memperkirakan bahwa 451.000 orang mungkin meninggal dalam beberapa bulan mendatang akibat El Niño,” ujar Greenstone mengutip siaran pers Climate Impact Lab.

Jaringan global Climate Impact Lab —terdiri dari para ekonom, ilmuwan iklim, insinyur data, dan analis risiko—sedang mengidentifikasi lokasi yang paling membutuhkan adaptasi iklim serta jenis investasi adaptasi apa yang akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat.

Greenstone mengatakan angka ini begitu besar sehingga terasa mencengangkan. Namun di baliknya terdapat orang tua dan anak-anak, kakek-nenek dan tetangga, serta orang-orang yang pergi bekerja, merawat keluarga, dan menjalani kehidupan mereka.

“Laporan ini memungkinkan para pengambil keputusan untuk melihat secara tepat di mana tindakan darurat dapat segera dilakukan guna menyelamatkan puluhan ribu nyawa dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Prediksi 451.000 kematian yang akan terjadi hanya dalam sembilan bulan pertama (Juni-Februari) masa El Niño ini jumlahnya sekitar 65 kali lipat lebih besar dibandingkan 6.800 orang yang diperkirakan tewas atau hilang akibat banjir bandang baru-baru ini di Nepal.

Kematian akibat panas yang dipicu El Niño ini akan terkonsentrasi secara masif di wilayah Global South (negara-negara berkembang). Hanya dalam enam bulan ke depan, laporan tersebut memproyeksikan tambahan 66.800 kematian di wilayah Sahel, Afrika, dengan hampir separuh dari jumlah tersebut terjadi di Nigeria (31.400 jiwa).

Di wilayah yang sama, Sudan diperkirakan akan menghadapi tambahan 17.500 kematian akibat panas, Niger sebanyak 10.000, dan Chad sebanyak 8.000.

Di Asia Tenggara, peningkatan suhu diproyeksikan akan menyebabkan tambahan 19.400 kematian di Filipina, Vietnam, Thailand, dan Kamboja, serta 19.300 kematian di Indonesia.

India diperkirakan akan mengalami tambahan 15.800 kematian, sementara di Amerika Selatan, Brasil menjadi negara yang paling terdampak dengan 13.300 kematian akibat panas yang dipicu oleh El Niño.

Mengarahkan upaya tanggap darurat dan ketahanan ke wilayah-wilayah prioritas tinggi ini berpotensi mencegah puluhan ribu kematian.

Inventarisasi Adaptasi (Adaptation Inventory) dari Climate Impact Lab menyediakan basis bukti yang akurat dan diperbarui secara berkala mengenai langkah-langkah adaptasi yang terbukti menyelamatkan nyawa berdasarkan penelitian yang telah ditinjau oleh rekan sejawat (peer-reviewed). Mulai dari sistem peringatan dini hingga pusat pendingin dan perlindungan bagi pekerja luar ruangan.

Beberapa langkah ini sudah mulai diterapkan untuk melindungi masyarakat dari fenomena El Niño yang bersejarah ini, namun data baru tersebut menegaskan di mana upaya harus diprioritaskan.

Data ini memperjelas bahwa dampak kematian akibat suhu ekstrem harus menjadi inti dari persiapan menghadapi El Niño yang efektif, di samping upaya ekstensif yang sudah ada untuk memitigasi risiko terhadap ketahanan pangan.

Laporan tersebut menemukan bahwa El Niño tahun ini juga merupakan “gambaran masa depan kita,” yang membawa suhu yang diproyeksikan akan terjadi akibat perubahan iklim dalam 20 tahun mendatang.

Dengan demikian, fenomena ini memberikan gambaran tentang apa yang akan terjadi jika tidak ada investasi baru dalam adaptasi. Terkait perencanaan adaptasi jangka panjang ini, terdapat banyak gagasan menjanjikan, termasuk prakiraan suhu yang lebih akurat dan akses yang lebih luas terhadap teknologi pendingin.

Penelitian berkelanjutan dari Climate Impact Lab akan membantu mengidentifikasi langkah apa yang efektif dan apa yang tidak, guna meningkatkan skala reformasi di wilayah-wilayah yang paling rentan.

Salah satu penulis laporan, Tamma Carleton, yang juga Kepala Penelitian Fakultas untuk Climate Impact Lab sekaligus Asisten Profesor di University of California, Berkeley, menjelaskan bahwa meningkatkan respons darurat dan menargetkan upaya kita dengan lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini.

“Namun, 20 tahun dari sekarang, ketika suhu ekstrem saat ini menjadi kondisi normal yang baru, kita tentu tidak ingin terus-menerus berada dalam situasi darurat,” ujarnya.

“Kita perlu memobilisasi sumber daya saat ini untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi perangkat persiapan serta perencanaan yang akan menyelamatkan nyawa di masa mendatang.”

Seiring dengan perkembangan El Niño, para peneliti akan memperbarui proyeksi mereka mengenai tambahan jumlah kematian dan memublikasikannya.

Exit mobile version