Elkana Amarduan, 23 Tahun Merawat Rambu Suar di Perbatasan Indonesia – Australia

FOTO: HUBLA.DEPHUB.GO.ID

SEORANG warga di Pulau Selaru, Maluku, selama 23 tahun dengan inisiatif sendiri merawat rambu suar. Rambu suar di Pulau Selaru ini berada di perbatasan Indonesia – Australia.

Warga bernama Elkana Amarduan (62 tahun) ini menjadi viral di media sosial karena merawat rambu suar –sebelumnya disebut menara suar– bertahun-tahun, tanpa ada insentif dari pemerintah.

Elkana, biasa disapa Eli, dengan sukarela menjaga rambu suar karena kecintaannya terhadap Indonesia. Terutama dalam menjaga aset negara agar rambu suar terus berfungsi untuk memberikan panduan keselamatan pelayaran kepada kapal-kapal yang memasuki perairan di wilayah tersebut.

Pada Kamis (16/5) tim Humas Kantor Pusat Ditjen Perhubungan Laut dan Distrik Navigasi kelas III Tual ke lapangan bertemu Eli di pulau tersebut. Untuk ke lokasi tersebut melalui Ambon dengan pesawat kecil ke Saumlaki.

Perjalanan dilanjutkan dengan speed boat ke pelabuhan Adaud kecamatan Selaru selama 1.5 jam. Selanjutnya selama 2,5 jam menggunakan mobil ke desa Elyasa dan 20 menit dengan sepeda motor ke lokasi Rambu Suar.

Di Pulau Selaru, terdapat Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) berupa rambu suar. Ada perbedaan rambu suar dan menara suar, sebagaimana dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 25/2011 tentang Sarana Bantu Navigasi Pelayaran.

Dalam peraturan ini disebutkan menara suar adalah Sarana Bantu Navigasi Pelayaran tetap yang bersuar dan mempunyai jarak tampak sama atau lebih 20 (dua puluh) mil laut yang dapat membantu para navigator dalam menentukan posisi dan/atau haluan kapal, menunjukan arah daratan dan adanya pelabuhan serta dapat dipergunakan sebagai tanda batas wilayah negara.

Rambu Suar adalah Sarana Bantu Navigasi Pelayaran tetap yang bersuar dan mempunyai jarak tampak sama atau lebih dari 10 (sepuluh) mil laut yang dapat membantu para navigator adanya bahaya/rintangan navigasi antara lain karang, air dangkal, gosong, dan bahaya terpencil serta menentukan posisi dan/atau haluan kapal serta dapat dipergunakan sebagai tanda batas wilayah negara,” ujar Budi.

Menurut Kepala Distrik Navigasi Kelas III Tual, Budi Setiaji, karena sifatnya yang statis dan bekerja dengan otomatis, maka Rambu Suar tidak perlu dijaga dan hanya ada perawatan rutin yang dilakukan oleh Distrik Navigasi Kelas III Tual.

Tim Perhubungan Laut bertemu dengan Eli dan warga di pulau Selaru. Tim menyampaikan apresiasi kepada Eli yang sudah secara sukarela membantu menjaga dan merawat rambu suar atas dasar kecintaannya terhadap aset negara. Rambu suar di lokasi ini setinggi 35 meter.

Budi mengatakan, dalam kunjungan ini, pemerintah memberikan penghargaan kepada Eli sebagai bentuk apresiasi atas partisipasinya dalam menjaga dan merawat rambu suar yang berada di lokasi ini.

Eli menyampaikan terima kasih atas kunjungan di pulau tersebut dan akan terus menjaga rambu suar dengan sukarela dan ikhlas guna mendukung terwujudnya keselamatan pelayaran.

Ditjen Perhubungan Laut sangat mengapresiasi tindakan yang dilakukan Eli dan berharap semua masyarakat dapat menjaga dan memelihara keberadaan SBNP baik berupa menara suar, rambu suar maupun pelampung suar. Tidak merusak ataupun mencuri peralatan tersebut karena keberadaan SBNP tersebut sangat vital dalam menunjang keselamatan pelayaran.

Data Direktorat Kenavigasian per Desember 2018, tercatat jumlah SBNP di seluruh Indonesia, menara suar 284 unit, rambu suar 1.852 unit dan pelampung suar 534 unit.*

Exit mobile version