Darilaut – Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Dr. Harto S. Malik, mengingatkan lulusan Fakultas Kedokteran UNG agar senantiasa menjunjung tinggi etika dan menjalankan kewajiban profesi dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Hal ini dikatakan Wakil Rektor IV saat Yudisium, Angkat Janji Sarjana Kedokteran, dan Sumpah Dokter Periode Oktober 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di aula lantai 3 Fakultas Kedokteran UNG, pada Jumat (16/10).
Pelayanan kesehatan, kata Harto, harus diberikan secara profesional dan adil tanpa membedakan latar belakang pasien. Selain kompetensi klinis, Harto mendorong para dokter untuk terus mengembangkan kapasitas akademik melalui kegiatan membaca literatur ilmiah, mengikuti perkembangan penelitian, dan membangun kolaborasi dalam menghasilkan karya ilmiah.
Budaya riset dinilai penting agar praktik kedokteran semakin berlandaskan bukti ilmiah dan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, kata Harto.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan kompetensi digital, kepemimpinan (leadership), dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Aspek-aspek tersebut diperlukan agar lulusan mampu beradaptasi dengan transformasi pelayanan kesehatan, bekerja secara efektif dalam tim multidisiplin, dan menghadapi persoalan klinis maupun tantangan sistem kesehatan yang semakin kompleks.
Harto menyampaikan bahwa kualitas pendidikan kedokteran menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Status akreditasi unggul pada Fakultas Kedokteran UNG dan UNG menjadi bagian dari upaya institusi dalam menjaga mutu pendidikan.
Dekan Fakultas Kedokteran UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, mengatakan, menjadi dokter tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan klinis, akan tetapi menuntut integritas, empati, dan kesediaan untuk mengabdi kepada sesama.
Fakultas Kedokteran FK UNG menegaskan komitmennya bagi tenaga medis yang kompeten, berintegritas, dan berorientasi pada kemanusiaan. Prosesi ini menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk memasuki tahapan baru dalam perjalanan akademik dan profesional, sekaligus meneguhkan komitmen terhadap etika kedokteran, keselamatan pasien, serta tanggung jawab dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
“Selamat menerapkan ilmu yang kalian dapatkan di masyarakat. Menjadi dokter bukanlah sekadar menyandang gelar, melainkan mengemban amanah kemanusiaan. Kehadiran kalian sangat dinantikan,” ujar Cecy.
”Pencapaian akademik dan profesional harus diiringi tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.”
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Gorontalo, Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, menegaskan bahwa sumpah dokter merupakan komitmen moral dan profesional yang harus menjadi pedoman dalam setiap pelaksanaan tugas kedokteran.
Ia mengingatkan para dokter baru agar tidak menjadikan kelulusan sebagai akhir dari proses belajar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan menuntut dokter untuk terus memperbarui pengetahuan, meningkatkan keterampilan, serta menjaga profesionalisme sepanjang perjalanan kariernya.
Menurutnya, masa internship merupakan kesempatan untuk memperkuat kompetensi klinis, memperluas pengalaman, dan membangun kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan pelayanan kesehatan.
Isman mengatakan dalam praktik kedokteran, pasien harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki martabat, kebutuhan, dan hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang baik, tanpa diskriminasi berdasarkan latar belakang sosial maupun kondisi lainnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kualitas seorang dokter tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendiagnosis dan menangani penyakit, tetapi juga oleh kemampuannya membangun komunikasi yang baik, menghormati hak pasien, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
