Darilaut – Fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) sangat erat kaitannya dengan Arlindo atau Arus Lintas Indonesia (ITF). Arlindo, arus air laut yang mengalir dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia, dengan sebagian besar jalurnya melewati Selat Makassar.
Arus inilah yang kerap dijadikan petunjuk awal (prekursor) untuk mendeteksi tanda-tanda datangnya El Nino hingga tiga bulan sebelum dampaknya dirasakan.
Peneliti dari Direktorat Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fadli Syamsudin, menjelaskan bahwa fenomena ENSO merupakan salah satu mode iklim multi-skala yang sangat sensitif di wilayah Benua Maritim.
“Pemantauan tekanan air melalui tambatan (mooring) di Selat Makassar memberikan hasil yang dapat menjadi petunjuk paling awal dari kemunculan ENSO, sehingga kita dapat memahaminya lebih dini,” ujar Fadli, Selasa (29/9), seperti dikutip dari Brin.go.id.
Menurut Fadli melalui model prediksi musiman SINTEX-F dari JAMSTEC, analisis per September juga menunjukkan adanya peningkatan suhu permukaan laut yang cukup luas dan tidak biasa di sekitar wilayah Papua, yang mengindikasikan struktur spasial non-kanonis di samping potensi perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Di sisi lain, meski pada umumnya dikaitkan dengan kekeringan, kata Fadli, sisi positif dari fenomena ini. Berdasarkan data kandungan klorofil, terjangan El Nino justru menunjukkan korelasi dengan peningkatan kesuburan laut di wilayah Indonesia Timur, yang menjadi kawasan subur bagi pertumbuhan ikan tuna, khususnya tuna mata besar (bigeye tuna).
Dalam webinar internasional bertajuk “El-Nino 2026-2027: From Global Climate Signal to Local Action: Preparing Indonesia and the United States for an Unprecedented Climate Challenge”, Fadli menggarisbawahi bahwa sistem peringatan dini tidak cukup hanya mengandalkan indeks ENSO semata, melainkan harus diterjemahkan menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti secara nyata.
Ia juga mencatat bahwa pemodelan iklim yang ada saat ini masih memiliki celah kekurangan, terutama dalam mengukur pergolakan arus dan turbulensi di lautan dalam (seperti di Saluran Labani, Selat Makassar). Hal inilah yang mendasari pentingnya kerja sama riset lanjutan dengan lembaga internasional.
Menanggapi pentingnya penguatan riset tersebut, Plt. Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Luki Subehi, mengatakan bahwa kolaborasi internasional sangat diperlukan mengingat dampak El Nino sangat erat terhubung dengan dinamika ITF.
Memahami perubahan ini penting tidak hanya untuk ilmu kelautan, tetapi juga untuk meningkatkan prediksi iklim, kesiapsiagaan bencana, keamanan air dan pangan, serta ketahanan masyarakat pesisir melalui pengembangan observasi berkelanjutan di Selat Makassar dan pemanfaatan riset sains yang berorientasi pada aksi nyata,” kata Luki.
Penguatan riset di lautan dalam tersebut turut diperkuat oleh penjelasan dari Daniel Rudnick dari Scripps Institution of Oceanography. Ia memaparkan pemanfaatan robotik bawah air berbentuk mirip pesawat luncur (spray underwater glider) yang dapat menyelam secara otomatis dari permukaan hingga kedalaman 1.000 meter untuk memantau perubahan suhu, kadar garam, hingga gelombang panas di lautan.
