Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah membuat informasi Pandangan Iklim (Climate Outlook) 2026. BMKG memprediksi dinamika laut khususnya fenomena La Nina masih akan berlanjut pada Januari—Februari 2026.
Selanjutnya, fenomena ini secara gradual akan beralih menuju fase Netral di periode Maret-April-Mei 2026 dan berlanjut hingga akhir tahun 2026.
Seperti yang ditampilkan dalam Gambar menjelaskan Model Prediksi ENSO 2026 oleh BMKG dan Pusat Iklim Global.
Area 68% dan 95% pada grafik dihitung dari nilai mean prediksi yang diberi batas masing-masing dengan satu simpangan baku (68%) dan dua simpangan baku (95%), sehingga menunjukkan rentang variasi utama dari hasil ensemble model.
Area hijau muda menunjukkan rentang 68%, sedangkan hijau tua menunjukkan rentang 95% dari seluruh prediksi model IRI (The International Research Institute for Climate and Society, Columbia University). Area merah muda menggambarkan rentang 68% dan merah tua menunjukkan rentang 95% dari prediksi model BMKG.
Sementara fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi akan berada pada fase Netral sepanjang tahun 2026.
Kondisi iklim tahun 2026 yang diprediksi cenderung Normal serta kehadiran La Nina Lemah di awal tahun dapat dioptimalkan untuk mendukung upaya memperkuat ketahanan pangan, melalui upaya peningkatan produktivitas tanaman pangan di wilayah-wilayah sentra pangan.
Di sisi lain, untuk daerah sentra produksi pangan yang diprediksi mengalami hujan Bawah Normal tindakan antisipasi perlu dilakukan, misalnya di sebagian kecil Sumatera Utara, sebagian kecil Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur, dan sebagian kecil Papua Barat Daya dan Papua Barat.
Pemerintah daerah di wilayah tersebut dapat menyiapkan strategi penyesuaian pengelolaan pertanian melalui perubahan pola tanam dan pengaturan ketersediaan air, serta mempertimbangkan penggunaan varietas tanaman yang lebih cocok dengan kondisi tersebut.
Pandangan Iklim Tahun 2026 secara umum berisi tentang prediksi kondisi iklim tahun 2026 yang disusun dengan mempertimbangkan kondisi terkini dari dinamika atmosfer–laut global, hasil pemodelan dinamis dan prediksi iklim berbasis machine learning.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa pandangan iklim merupakan komitmen BMKG dalam memberikan gambaran komprehensif dinamika atmosfer-laut global.
Informasi tersebut terdiri dari prediksi fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan IOD, prediksi spasial suhu udara dan curah hujan 2026, dan perbandingannya terhadap kondisi rerata jangka panjang selama 30 tahun (atau disebut sebagai kondisi “Normal”) serta perbandingannya terhadap kondisi iklim tahun 2025.
Prediksi Suhu Udara
Secara umum, suhu udara rata-rata pada tahun 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi berkisar antara 25—29 °C.
Suhu udara kurang dari 25 °C umumnya terjadi di wilayah dataran tinggi, misalnya di Bukit Barisan Sumatera, Pegunungan Latimojong Sulawesi, dan Pegunungan Jaya Wijaya Papua. Apabila dibandingkan dengan kondisi normalnya pada periode tahun 1991—2020, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami suhu udara yang lebih hangat dengan nilai anomali berkisar 0,2 °C—0,6 °C.
Potensi Hujan
Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan akumulasi tahunan dengan kategori Normal pada 2026.
Secara intensitas, beberapa wilayah berpotensi mendapatkan curah hujan tahunan yang tinggi, lebih dari 2.500 mm/tahun, yaitu meliputi sebagian besar Aceh, sebagian Sumatera Utara, sebagian besar Sumatera Barat, sebagian Riau bagian barat, sebagian Jambi, sebagian besar Bengkulu, sebagian Sumatera Selatan, sebagian besar Kepulauan Bangka Belitung, sebagian Lampung bagian utara.
Kemudian, sebagian Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah bagian barat, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian besar Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi bagian tengah dan selatan, sebagian Bali, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kepulauan Maluku, dan sebagian besar Papua.
