Adapun nama epithet “bambu” diberikan sebagai petunjuk bahwa seluruh individu anggrek yang ditemukan selalu berasosiasi dengan habitat rumpun bambu.

Ketika mempublikasikan hasil penelitian tersebut, Destario mencatat spesies ini diduga endemik Pulau Jawa. Hal ini karena catatan rekaman yang ditemukan selama penelitian hanya ada di dua lokasi saja, yaitu Yogyakarta dan Jawa Barat.
Setahun kemudian, pada 2018, peneliti asal Rusia, Leonid Averyanof juga mempublikasikan spesies baru anggrek hantu Gastrodia khangii berbunga kecoklatan dari hutan Provinsi Son-La, Vietnam. Spesies ini diduga endemik dan terbatas di Vietnam.
Destario kemudian melakukan penelitian mengenai rekaman baru keberadaan anggrek hantu di Vietnam.
Hasil observasi mendalam dengan membandingkan spesies Gastrodia di Jawa dan Vietnam menunjukkan bahwa keduanya merupakan satu taksa yang sama. Walaupun populasinya terpisah jarak geografis yang sangat berjauhan.
“Ciri morfologi organ vegetatif rhizom dan bunganya memiliki tingkat similiaritas yang sangat tinggi. Oleh karenanya, nama spesies Gastrodia khangii diusulkan untuk direduksi ke dalam sinonim dari taksa Gastrodia bambu sebagai nama ilmiah yang diterima (accepted), mengingat nama Gastrodia bambu telah dipublikasikan lebih awal,” kata Destario, peraih penghargaan Peneliti Muda Terbaik Bidang Ilmu Hayati LIPI pada 2012.





Komentar tentang post