Jangkauan Luas El Niño: Kekeringan, Gagal Panen Hingga Banjir Besar

Kekeringan. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Fenomena El Niño dengan suhu Samudra Pasifik yang telah melampaui angka pengukuran pada peristiwa bersejarah tahun 1997 dan 2015.

Melansir UN News El Niño periode 2026-2027 diperkirakan akan menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah. Berpotensi memperparah kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem lainnya di berbagai negara yang sudah bergulat dengan masalah kerawanan pangan, pengungsian, dan tekanan ekonomi.

El Niño dapat mengubah pola curah hujan hingga ribuan kilometer jauhnya dari wilayah Pasifik tropis, menyebabkan sebagian wilayah menghadapi kekeringan dan kelangkaan air, sementara wilayah lain harus menghadapi hujan lebat, banjir, dan peningkatan risiko penyakit.

Lebih dari 347 juta anak di hampir 100 negara dan wilayah dapat terdampak oleh kondisi yang sangat kering atau sangat basah antara bulan Oktober dan Desember akibat El Niño, demikian peringatan Dana Anak-anak PBB (UNICEF) dalam sebuah analisis terbaru.

“Bagi anak-anak, El Niño bukan sekadar pola cuaca. Fenomena ini dapat berarti meningkatnya jumlah pengungsi, malnutrisi, kelangkaan air, dan wabah penyakit,” ujar Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell.

“Anak-anak juga berisiko menghadapi penutupan sekolah, sementara keluarga mereka mungkin mengalami kesulitan keuangan tambahan.”

Saat ini, 1,1 miliar anak—hampir separuh dari jumlah anak di dunia—sudah terpapar setidaknya tiga bahaya terkait iklim yang terjadi secara bersamaan, seperti kekeringan, suhu panas ekstrem, atau banjir.

Di seluruh Papua Nugini, sumber-sumber air mulai mengering, tanaman gagal panen, dan harga pangan melonjak—bahkan sebelum dampak terburuk terhadap sektor pertanian diperkirakan terjadi.

Beberapa dampak tersebut sudah terlihat di Papua Nugini, sebuah negara kepulauan Pasifik yang bergunung-gunung, di mana medan yang terpencil dan logistik yang sulit telah menyulitkan upaya penanganan kekeringan di masa lalu.

Kondisi El Niño telah berlangsung sejak pertengahan tahun 2026 dan diperkirakan akan mencapai puncaknya antara bulan Oktober dan Desember.

Pada bulan September, indeks Niño 3.4—sebuah tolok ukur suhu permukaan laut di Pasifik tropis yang digunakan untuk memantau El Niño—melampaui angka yang tercatat pada setiap peristiwa El Niño sebelumnya, termasuk tahun 1997 dan 2015.

Pemerintah setempat, yang telah menetapkan status peristiwa ini pada bulan Juni, telah membentuk gugus tugas khusus dan menyetujui anggaran tambahan sebesar US$112 juta.

Namun, kebutuhan terus meningkat. Sekitar 1,2 juta orang diperkirakan membutuhkan bantuan pangan langsung, sementara laporan mengenai kekurangan air, gagal panen, menipisnya cadangan pangan, dan kenaikan harga sudah bermunculan.

Kegiatan sekolah terganggu, dan kekhawatiran mengenai kesehatan, gizi, serta kebakaran lahan pun kian meningkat.

Dampak terbesar terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan diperkirakan akan terjadi mulai bulan November.

Exit mobile version