Darilaut.id – Di perairan biru yang tenang di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, seekor raksasa laut jinak kembali menampakkan diri. Hiu paus (Rhincodon typus), ikan terbesar di dunia yang bagi masyarakat lokal dikenal dengan nama munggiyango hulalo, telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Gorontalo, Teluk Tomini.
Setiap kali tubuhnya yang berkilau di bawah sinar matahari muncul ke permukaan, masyarakat dan wisatawan dibuat takjub. Fenomena ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga kisah tentang bagaimana manusia dan laut saling menjaga keseimbangan satu sama lain.
Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Perikanan (Pokmaswas) Orca Botubarani, Olis Latief, menjadi saksi hidup perjalanan panjang hiu paus di kawasan ini. Ia masih mengingat jelas saat hiu paus sempat menghilang dari perairan Botubarani.
“Hiu paus ini di tahun 2016 sempat menghilang selama tiga bulan karena munculnya paus orca, tapi setelah itu muncul lagi dan sampai sekarang masih sering terlihat,” ujar Olis.
Kemunculan paus Orca ini, bukan menjadi yang pertama. Menurut Olis, tahun 2017 paus Orca pernah berada dekat pantai Botubarani, dengan jumlah tiga ekor, dua besar dan satu kecil. Paus Orca berukuran kecil adalah bayi Orca.
Kemudian tahun 2019 muncul kembali. Setelah lama tak menampakkan diri, tahun 2024 tepatnya tanggal 24 Mei, dua paus orca (paus pembunuh) terlihat di perairan Botubarani, di lokasi wisata minat khusus hiu paus.
Setelah paus Orca muncul dekat pantai Botubarani, tiga hiu paus menghilang.
Informasi yang diperoleh Darilaut.id, periode 2016 hingga 2017 merupakan masa paling ramai kemunculan hiu paus. Saat itu, jumlahnya bisa mencapai belasan ekor dalam satu waktu, kata Olis.
“Waktu itu masih ada aktivitas pabrik (perusahaan perikanan PT Sinar Ponula Deheto) yang menghasilkan sisa makanan di laut,” kata Olis, selain itu, banyak plankton dan ikan kecil yang menjadi sumber makanan hiu paus.
Namun kini, kata Olis, dari tahun 2018 hingga 2025, kemunculan hiu paus tetap rutin terjadi per harinya, meskipun jumlahnya lebih stabil, berkisar antara satu hingga delapan ekor.
Setiap bulan, terutama pada musim ikan nike, masyarakat Botubarani dapat menyaksikan hiu paus berenang dengan tenang di sekitar pantai.
“Kalau musim nike, biasanya mereka muncul setiap hari. Rasanya seperti bertemu teman lama,” kata Olis.
Baginya, kehadiran hiu paus tidak hanya menjadi sumber kebanggaan warga, tetapi juga tanda bahwa laut mereka masih sehat.
Pokmaswas Orca yang dipimpinnya bersama warga setempat aktif melakukan pengawasan dan edukasi agar aktivitas wisata dan perikanan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
Kehadiran hiu paus di Botubarani juga menjadi perhatian para peneliti dan lembaga konservasi. Salah satunya adalah Sukirman Tilahunga, Staf Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar Wilayah Kerja Gorontalo, yang turut melakukan pemantauan melalui teknologi penandaan atau tagging.
“Hingga saat ini, hiu paus yang sudah di tagging ada lima ekor, termasuk dengan tagging satelit,” ujar Sukirman.
Menurut Sukirman, hasil pelacakan dari tagging satelit menunjukkan bahwa pergerakan hiu paus di Botubarani masih berada di kawasan Teluk Tomini.
“Dari data yang kami peroleh, daerah migrasi mereka tidak keluar dari kawasan Teluk Tomini. Mereka hanya bergerak di sekitar wilayah tersebut.”
Temuan ini menjadi kabar baik bagi konservasi laut Gorontalo. Artinya, perairan Teluk Tomini bukan hanya sekadar persinggahan, tetapi telah menjadi habitat penting bagi hiu paus di Indonesia bagian timur.
Ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan perairan di sekitar Botubarani masih mendukung bagi hiu paus untuk tetap berada di sana.
Hasil pemantauan tagging membantu pemerintah dan peneliti memahami pola migrasi, perilaku makan, dan interaksi hiu paus dengan manusia.
Informasi ini penting untuk pengelolaan kawasan konservasi dan pengaturan aktivitas wisata agar tetap ramah terhadap satwa laut dilindungi seperti hiu paus.
Sebab, menurut Sukirman, hiu paus punya peran penting menjaga keseimbangan ekosistem laut. Karena itu, sangat penting menjaga keseimbangan antara kegiatan wisata dan konservasi.
Sementara itu, Verrianto Madjowa, peneliti sekaligus Pemimpin Redaksi Darilaut.id menyoroti sepanjang tahun 2025, hiu paus terpantau hampir setiap hari di Botubarani, sejak Januari hingga awal November.
“Selama 303 hari, hiu paus melakukan agregasi di kawasan Botubarani. Tapi itu bukan berarti individu yang sama setiap kali. Ada yang datang dan pergi bergantian sesuai musim dan ketersediaan makanan,” ujar Verrianto.
Menurut Verrianto, ada dua faktor utama yang membuat hiu paus begitu betah di perairan ini. Pertama, tidak ada paus Orca yang biasanya membuat hiu paus menjauh.
“Tahun ini tidak ada laporan kemunculan paus Orca di sekitar Botubarani, sehingga hiu paus merasa aman untuk berlama-lama.”
Faktor kedua adalah keberadaan empat rumpon di dalam zona interaksi hiu paus. Rumpon—struktur buatan tempat berkumpulnya ikan kecil—berperan penting dalam menjaga rantai makanan laut.
“Rumpon ini berpengaruh besar terhadap kehadiran plankton, baik fitoplankton maupun zooplankton, serta ikan-ikan kecil yang menjadi makanan utama hiu paus.”
Meski begitu, Verrianto mengingatkan bahwa aktivitas wisata juga menjadi bagian dari dinamika kehidupan hiu paus di Botubarani. Para pemandu wisata kerap memberi makanan tambahan berupa udang kecil untuk menarik hiu paus agar tetap berada di sekitar perahu. Aktivitas ini, menurutnya, perlu dibatasi agar tidak mengganggu perilaku alami hiu paus.
“Pemberian makanan tambahan hanya berfungsi agar hiu paus tetap di permukaan laut dan bisa dilihat wisatawan. Tapi faktor utama yang membuat mereka datang tetaplah ketersediaan plankton di rumpon dan musim nike, harus ada batasan seberapa banyak makanan tambahan yang boleh diberikan,” ujarnya.
Bagi masyarakat Botubarani, hiu paus bukan hanya daya tarik wisata, tetapi juga simbol keberlanjutan laut yang mereka warisi dari generasi ke generasi.
Kelompok Pokmaswas Orca bersama pemerintah desa dan para peneliti terus berupaya menjaga kawasan ini agar tetap lestari. Edukasi kepada nelayan, pengawasan penggunaan rumpon, hingga pembatasan jumlah wisatawan menjadi bagian dari komitmen menjaga harmoni laut.
“Hiu paus ini sudah seperti tamu tetap di rumah kami. Kalau laut bersih dan makanan mereka cukup, mereka pasti datang lagi,” kata Olis.
Kini, setiap kali raksasa jinak itu muncul di zona interaksi perairan Botubarani, masyarakat tak hanya menyaksikan keindahan laut, tetapi juga menyadari pentingnya menjaga alam.
Hiu paus menjadi penanda bahwa laut Gorontalo masih hidup dan memberi kehidupan. Bahwa harmoni antara manusia dan laut bukan sekadar cerita, tetapi kenyataan yang tumbuh di Teluk Tomini, “rumah” sementara munggiyango hulalo. (Novita J. Kiraman)
