Sabtu, Februari 14, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Kegagalan Usaha Udang Windu Jangan Terulang Lagi

redaksi
21 Agustus 2018
Kategori : Berita
0
Kegagalan Usaha Udang Windu Jangan Terulang Lagi

Udang Windu. FOTO: DOK. KKP.GO.ID

Jakarta – Kegagalan usaha udang windu sejak dua dekade lalu jangan terulang kembali. Keterpurukan budidaya udang windu ini disinyalir karena pola pengelolaan yang mengabaikan prinsip-prinsip budidaya yang bertangung-jawab.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan, prinsip-prinsip sustainable aquaculture menjadi hal mutlak yang harus dipenuhi, jika ingin ada jaminan usaha budidaya dapat berkelanjutan. Apalagi, permintaan pasar udang windu terbuka luas.

“Saat ini ada image bahwa akuakultur ini menjadi penyebab menurunnya kelestarian sumber daya ikan,” kata Slamet saat membuka lokakarya sistem pengelolaan budidaya udang windu di Jakarta, Rabu (15/8). Ini terjadi akibat eksploitasi sumber induk dan benih yang berasal dari alam.

Lokakarya digelar atas kerja sama KKP dan World Wild Foundation ( WWF). Tujuan lokakarya untuk menghasilkan dokumen sintesa terkait strategi bagi pengelolaan budidaya udang windu secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hadir dalam lokakarya, perwakilan WWF, Moana Technologies, PT Atina, PT Bomar, akademisi, pakar/peneliti dan para pelaku usaha dari berbagai daerah.

Slamet menegaskan, mulai saat ini eksploitasi sumber induk dan benih dari alam harus dihentikan. Upaya yang dilakukan dengan mendorong pemuliaan induk melalui breeding program. Indonesia memiliki broodstock center khusus udang windu di BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar yang akan didorong untuk menghasilkan induk-induk unggul dan SPF (Spesifik Pathogen Free).

Menurut Slamet, penting untuk melakukan pengelolaan sumber daya udang windu berbasis ekosistem. Karena itu, KKP bersama WWF telah membuat percontohan implementasi budidaya berbasis ekosistem (Ecosystem Approach for Aquaculture/EAA) di Kabupaten Pinrang.

Implementasi budidaya ini dilakukan dengan menggandeng PT Bomar, sebagai eksportir udang windu. Nantinya, percontohan ini akan menjadi rujukan bagi penerapan EAA di seluruh Indonesia.
Sebagai komoditas unggulan asli Indonesia, udang windu memiliki nilai ekonomi penting, sehingga eksistensinya harus dipertahankan sebagai bagian dari plasma nutfah Indonesia. Untuk itu, pengelolaan udang windu harus mempertimbangkan kesesuaian lokasi dan konservasi sumber daya udang windu, khususnya induk-induk dari alam.

Direktur Marine and Fisheries WWF, Wawan Ridwan mengatakan, udang windu merupakan udang endemik dan menjadi keragaman plasma nutfah Indonesia. Terdapat hak ekologi terkait sumber daya udang windu ini dan Indonesia bertanggung jawab menjamin kelestarian sumber daya udang windu ini. Artinya, jika udang windu punah, negara lain bisa menuntut Indonesia.

WWF menyambut gembira komitmen KKP dalam mendorong pengelolaan akuakultur secara bertanggung jawab. Kita sering terlena dan merasa bahwa sumber daya ini tidak tak terbatas, sehingga pertimbangan carrying capacity terabaikan. “Inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan stok, imbasnya tidak ada jaminan ketersediaan bagi lintas generasi,” kata Wawan.

Menurut General Manager Moana Technology Hawaii USA, Walter Coppens, induk dan benih yang bebas penyakit menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan budidaya udang windu. Keberhasilan selected breeding program yang dilakukan Moana, yakni kematangan gonad induk yang mampu dipersingkat dari 12 bulan menjadi hanya 9 bulan. Kemudian, sistem ketelusuran yang efektif dan jaminan terbebas dari hampir 20 jenis penyakit dan gejalanya.

Moana memberikan jaminan bahwa induk yang digunakan telah melalui seleksi yang ketat dan terbukti benih yang dihasilkan memiliki SR yang tinggi. Moana memiliki tiga lokasi multiplication senter, antara lain di Vietnam, Bangladesh dan India.

National Broodstock Center Vietnam, telah menghasilkan 60.000 induk per tahun. Ini salah satu ambisi Vietnam untuk menguasai pangsa pasar udang dunia. “Saya rasa Indonesia perlu melakukan hal yang sama agar tidak ketinggalan,” kata Walter.

Perlu diketahui, Moana Technology merupakan perusahaan yang berpusat di Hawaii, USA, yang fokus pada penyediaan induk dan benih udang windu berkualitas dan telah banyak digunakan di negara negara produsen udang di dunia.

Manajer PT Bomar, Irsan Surya Centama mengatakan potensi tambak untuk pengembangan udang windu di Sulawesi dan Kalimantan diperkirakan mencapai 263.000 ha. Tambak ini tersebar di Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara dengan pembudidaya yang dapat dilibatkan mencapai 100.000 orang.

Menurut Irsan, PT Bomar akan mendorong intagrated factory, dan saat ini tengah bekerjasama dengan WWF untuk memenuhi ASC (Aquaculture Stewardship Council) sertifikasi. Demand udang windu ini sangat besar dan terbuka dan kami masih kekurangan suplai.

“Indonesia punya potensi pengembangan besar, saya rasa dengan upaya pengembangan induk dan benih unggul dan pengelolaan budidaya yang berkelanjutan, peluang ini dapat kita capai,” katanya.

Direktur Perbenihan, Coco Kokarkin Soetrisno mengatakan, saat in harus menjadi titik tolak kebangkitan kembali udang windu Indonesia. Kerja sama seluruh stakeholders menjadi mutlak dibutuhkan. Pengelolaan sistem produksi mulai dari breeding program, pengelolaan budidaya, dan pendampingan menjadi hal pokok yang harus segera ditingkatkan.

Pada 2016, produksi nasional udang windu mencapai 150.860 ton atau sekitar 20,99 dari total produksi udang nasional naik sebesar 18,2 persen dibanding tahun 2015 yang mencapai 127.627 ton.*

Tags: KKPUdangWWF
Bagikan8Tweet5KirimKirim
Previous Post

Foto: Penenggelaman Kapal Illegal Fishing di Bitung

Next Post

Foto: Penenggelaman 125 Kapal Illegal Fishing

Postingan Terkait

Siklon Tropis Gezani Menewaskan 40 Orang di Madagaskar, Saat Ini Terletak di Dekat Pantai Mozambik

Siklon Tropis Gezani Menewaskan 40 Orang di Madagaskar, Saat Ini Terletak di Dekat Pantai Mozambik

13 Februari 2026
Penyumbang Ekspor Terbesar Provinsi Gorontalo Pelet Kayu, Bukan Jagung dan Ikan

Penyumbang Ekspor Terbesar Provinsi Gorontalo Pelet Kayu, Bukan Jagung dan Ikan

13 Februari 2026

Siklon Tropis Gezani Mendekati Pesisir Selatan Mozambik

Tahun 2025 Ekspor Pelet Kayu Asal Provinsi Gorontalo Meningkat Menjadi 313,9 Ribu Ton

Indonesia Masih Puncak Musim Hujan, Cuaca Lebaran 2026 Relatif Kondusif

La Nina, Monsun Asia dan Fenomena MJO Berpotensi Meningkatkan Curah Hujan di Indonesia

Hujan Masih Mendominasi Kondisi Cuaca Indonesia Hari Ini Hingga 19 Februari

Siklon Tropis Gezani Memulai Reorganisasi, Makin Menguat di Mozambique Channel

Next Post
Foto: Penenggelaman 125 Kapal Illegal Fishing

Foto: Penenggelaman 125 Kapal Illegal Fishing

Komentar tentang post

TERBARU

Siklon Tropis Gezani Menewaskan 40 Orang di Madagaskar, Saat Ini Terletak di Dekat Pantai Mozambik

Penyumbang Ekspor Terbesar Provinsi Gorontalo Pelet Kayu, Bukan Jagung dan Ikan

Siklon Tropis Gezani Mendekati Pesisir Selatan Mozambik

Tahun 2025 Ekspor Pelet Kayu Asal Provinsi Gorontalo Meningkat Menjadi 313,9 Ribu Ton

Indonesia Masih Puncak Musim Hujan, Cuaca Lebaran 2026 Relatif Kondusif

La Nina, Monsun Asia dan Fenomena MJO Berpotensi Meningkatkan Curah Hujan di Indonesia

AmsiNews

REKOMENDASI

Topan Bualoi Merusak 158 Ribu Rumah dan Menewaskan 29 Orang di Vietnam

Merawat Tradisi Nelayan Bugis, Mandar dan Bajo

Ratusan Ribu Orang Tanda Tangani Stop Beli Tiket Pertunjukan Lumba-lumba

Tim SAR Evakuasi 138 Jenazah Korban Banjir di NTT, 49 Dalam Pencarian

Profesor Rosichon: Krisis Iklim Ancam Kepunahan Keanekaragaman Hayati

FPIK Unsrat Bedah Hasil Riset Laut dan Pesisir

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2023 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2023 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.