Kekeringan Akibat El Niño Menghantam Kamboja

El Niño mengubah pola cuaca di seluruh dunia. FOTO: FAO

Darilaut – Secara global, fenomena El Niño dapat meningkatkan suhu ekstrem dan risiko kebakaran hutan di beberapa wilayah, sekaligus mendatangkan hujan lebat, banjir, serta gelombang panas laut di wilayah lainnya.

Di Kamboja hingga Oktober ini belum ada aroma tanah basah, ataupun tanda-tanda akan turun hujan.

Pukul tujuh pagi, hawa panas sudah menyelimuti lahan pertanian di Provinsi Siem Reap, Kamboja. Udara terasa senyap, tanah kering kerontang, dan tanaman padi pun mulai mati.

“Seumur hidup, saya belum pernah mengalami kekeringan selama ini,” ujar Sokhoeun Chhut, seorang petani berusia 45 tahun di provinsi tersebut, seperti dikutip dari Fao.org. “Tahun ini jelas merugi. Semuanya hangus terbakar. Panasnya seperti api.”

Inilah dampak El Niño, fenomena iklim alami yang mengganggu pola cuaca di seluruh dunia. Di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, El Niño mengubah pola monsun musim panas yang lazim terjadi, menunda datangnya musim hujan, dan memperparah kondisi kekeringan.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Niño kali ini akan mencapai puncaknya pada akhir tahun 2026 hingga awal 2027, dengan dampak terhadap curah hujan, produksi pangan, dan suhu global yang akan terus berlanjut bahkan setelah puncak tersebut berlalu.

El Niño Sebelumnya

Kamboja pernah menghadapi situasi serupa sebelumnya. Saat El Niño melanda pada tahun 1997–1998, pemerintah Kamboja mengajukan permohonan bantuan sekitar 250.000 ton beras bagi penduduk yang terdampak kekeringan.

Di Provinsi Preah Vihear, Sokhom Kha sudah menjadi petani saat El Niño itu terjadi. Ia telah menggarap lahan pertaniannya sejak tahun 1987, jauh sebelum informasi cuaca dan iklim dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat pedesaan.

“Ada hari-hari di mana kami terpaksa makan nasi yang dicampur jagung merah demi bertahan hidup. Kami mencari rebung di hutan dan menangkap ikan di sawah untuk memberi makan seluruh keluarga,” ujarnya.

El Niño tahun 2015–2016 bahkan jauh lebih ekstrem. Fenomena ini menyebabkan kondisi panas dan kering yang luar biasa, berdampak pada sekitar 2,5 juta jiwa di 18 provinsi, serta menurunkan produksi padi dan merugikan sektor perikanan. Saat ini, Kamboja kembali menghadapi risiko dampak El Niño.

Exit mobile version