Kekeringan, Karhutla dan Asap Meluas di Berbagai Wilayah Indonesia

Titik api di Sebagian wilayah Kalimantan Barat. GAMBAR: European Union, Copernicus Sentinel-2 imagery

Darilaut – Kombinasi minimnya curah hujan dan kondisi atmosfer kering akibat musim kemarau yang diperkuat dengan El Niño memicu sejumlah wilayah mengalami kekeringan serta meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia.

Dampak lain yang perlu diwaspadai dari kondisi kering adalah muncul dan meluasnya kabut asap akibat karhutla, khususnya dari kebakaran di kawasan gambut, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Pemantauan BMKG melalui satelit pada 13 September 2026, titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi masih banyak terdeteksi.

Konsentrasi terbanyak terdapat di Kalimantan, yaitu 627 titik, disusul Papua dan Maluku sejumlah 200 titik, Sulawesi 104 titik, serta Sumatra 86 titik.

Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengatakan kondisi atmosfer yang kering dapat mendukung kebakaran bertahan lebih lama, terutama pada lahan gambut, karena api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.

Berdasarkan pemantauan citra Satelit Himawari-9 pada 14 September 2026 pukul 08.00 WIB, BMKG mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

BMKG mengingatkan kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama karena dapat memengaruhi kualitas udara, kesehatan masyarakat, jarak pandang, serta aktivitas transportasi di wilayah terdampak.

Selain meningkatkan risiko karhutla dan kabut asap, kondisi kering juga menyebabkan minimnya tutupan awan, sehingga radiasi matahari mencapai bumi secara maksimal. Hal ini berdampak pada naiknya suhu permukaan di sejumlah wilayah.

Suhu udara maksimum yang melampaui 36°C tercatat di beberapa wilayah, antara lain di Lampung, Aceh, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

Suhu udara yang tinggi dapat menurunkan kenyamanan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Selain kondisi kering, karhutla, kabut asap, dan suhu udara tinggi, kejadian angin kencang juga turut tercatat di sejumlah wilayah. Peningkatan kecepatan angin tersebut dipengaruhi oleh penguatan monsun Australia yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kerusakan bangunan, pohon tumbang, serta gangguan transportasi telah dilaporkan akibat angin kencang di Cimahi, Jawa Barat, serta di Situbondo dan Mojokerto, Jawa Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa angin kencang turut menjadi fenomena cuaca yang perlu diperhatikan di tengah dominasi kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia.

Exit mobile version