Kemarau Meluas, Potensi Hujan Indonesia Masih Signifikan

Ilustrasi kondisi cuaca. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Potensi hujan Indonesia dalam sepekan ke depan periode 23 – 29 Juni 2026 masih signifikan di tengah meluasnya kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan periode 23 – 25 Juni 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini di Sumatra Utara, Kepulauan Bangka Belitung, dan Jawa Barat.

Periode 26 – 29 Juni 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.

Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini di Papua Pegunungan.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap mencermati perkembangan cuaca dalam sepekan ke depan, mengingat kondisi atmosfer di Indonesia yang dinamis.

Menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG, pada Dasarian I–II Juni 2026, musim kemarau mulai berkembang terutama di selatan ekuator seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, serta sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Selatan.

Secara klimatologis, pola tersebut sejalan dengan prediksi Bulan Juni sebagai fase awal penguatan kemarau, bersamaan dengan signifikansi indeks Nino3.4 yang menunjukkan kondisi El Niño. Kondisi ini dapat mengurangi suplai uap air di sebagian wilayah Indonesia.

Meskipun demikian, kata BMKG, masih terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat pada periode 19–21 Juni 2026 di sebagian wilayah Indonesia.

Hujan signifikan tersebut tercatat di Sumatra Barat (120 mm/hari), diikuti Aceh (101 mm/hari), Sumatra Utara dan Kalimantan Tengah (95 mm/hari), Sulawesi Barat (71 mm/hari), Jawa Timur (53 mm/hari), serta Kalimantan Barat (51 mm/hari).

Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial di sekitar Sumatra, Gelombang Kelvin yang mempengaruhi sebagian Sumatra dan Kalimantan, serta adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra berperan signifikan dalam menginduksi peningkatan hujan di sebagian wilayah Indonesia tersebut.

Selain itu, Siklon Tropis “Mekkhala” turut memengaruhi pola angin dan membentuk daerah belokan serta pertemuan angin yang memanjang di Samudera Pasifik timur Filipina hingga di sekitar wilayah Laut Cina Selatan.

Dengan demikian, meskipun musim kemarau mulai meluas di sebagian wilayah Indonesia, peluang hujan signifikan masih tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang dipengaruhi oleh kondisi dinamika atmosfer tersebut.

Exit mobile version