Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan perubahan iklim telah memengaruhi pola suhu dan hujan di Indonesia. Naiknya suhu membawa dampak yang lebih luas terhadap keseimbangan lingkungan dan meningkatkan berbagai risiko iklim.
Perubahan sebesar satu derajat pun dapat memicu perubahan besar pada ekosistem, ”kenaikan satu derajat itu bukan kecil,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Dampak tersebut salah satunya terlihat pada perubahan karakteristik hujan. Proyeksi BMKG menunjukkan sejumlah wilayah di selatan khatulistiwa dapat mengalami penurunan curah hujan tahunan dalam jangka panjang, sementara kejadian hujan ekstrem justru berpotensi semakin sering terjadi.
“Perubahan iklim juga mengubah pola hujan. Hujan ekstrem akan lebih sering terjadi,” ujar Faisal.
Perubahan pola ini memiliki konsekuensi langsung bagi kehidupan perkotaan. Hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko banjir dan longsor, sementara kondisi kering yang lebih panjang dapat menekan ketersediaan air serta memengaruhi aktivitas masyarakat dan sektor ekonomi.
Karena itu, informasi meteorologi dan klimatologi perlu menjadi bagian dari penguatan ketahanan urban.
Data BMKG dapat dimanfaatkan pemerintah daerah untuk mendukung perencanaan tata ruang, infrastruktur, sumber daya air, transportasi, ketahanan pangan, kesiapsiagaan bencana, hingga kewaspadaan sektor kesehatan terhadap penyakit yang dipengaruhi kondisi iklim, seperti demam berdarah dan malaria.
Data dan informasi iklim perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam perencanaan kota, bukan sekadar digunakan saat cuaca ekstrem atau bencana terjadi.
Hal ini mengemuka dalam Mayors Talk: Climate and Urban Resilience 2026 di IPB International Convention Center, Bogor, yang mempertemukan wali kota dan kepala organisasi perangkat daerah se-Komisariat Wilayah III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) untuk membahas penguatan ketahanan urban di tengah perubahan iklim.
Forum yang diselenggarakan APEKSI Pusat bersama Pemerintah Kota Bogor tersebut membahas sejumlah isu strategis.
Mulai dari ketahanan pangan, lingkungan perkotaan, tata ruang berbasis risiko, hingga pemanfaatan climate intelligence dan sistem peringatan dini.
Seluruh pembahasan diarahkan agar kebijakan pembangunan daerah semakin adaptif terhadap perubahan iklim dan memberikan perlindungan yang lebih nyata bagi masyarakat.
