Darilaut – Kolaborasi peneliti Jerman dan Indonesia berhasil menemukan dan mengidentifikasi delapan spesies baru krustasea di laut Sulawesi Utara.
Spesies baru krustasea tersebut telah diterbitkan di jurnal Evolutionary Systematics, dengan judul “New Anthuroidea (Crustacea, Isopoda) from Northern Sulawesi (Indonesia) and a revised classification of the Haliophasma and Apanthura groups.”
Penulis dalam artikel jurnal tersebut masing-masing J. Wolfgang Wägele dari Leibniz Institute for the Analysis of Biodiversity Change, Bonn, Jerman; Nani I. J. Undap dari Pusat Riset Sistem Biota, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); dan Adelfia Papu dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Delapan spesies baru tersebut masing-masing: 1) Eisothistos minahasaensis sp. nov., 2) Mesanthura ratulangii sp. nov., 3) Mesanthura heliolatra sp. nov., 4) Haliophasma annaclericiae sp. nov., 5) Apanthuretta markuslasuti sp. nov., 6) Apanthuretta pinchans sp. nov., 7) Amakusanthura mamuajae sp. nov., dan 8) Apanthurella cuspidobtusa gen. nov. et sp. nov.
Spesies-spesies tersebut ditemukan dalam sampel pecahan karang dan sedimen di wilayah dekat pantai di Sulawesi Utara, Indonesia, tulis peneliti.
Untuk spesies baru tersebut, Apanthuretta markuslasuti dan Amakusanthura mamuajae didedikasikan untuk dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, yakni Prof. Dr. Markus Lasut dan Dr. Jane Mamuaja.
Menurut penulis, spesies baru Apanthuretta markuslasuti, dinamai untuk menghormati Prof. Markus Lasut dari Departemen Ilmu Kelautan dan Direktur Program Studi di Unsrat. Prof. Markus dinilai telah memberikan dukungan yang berkelanjutan dan efektif terhadap penelitian keanekaragaman hayati terumbu karang Indonesia. Begitu pula dengan Dr. Jane.
Terdapat pula penamaan spesies baru Eisothistos minahasaensis untuk nama lokasi temuan di perairan Minahasa, serta spesies Mesanthura ratulangii untuk mengabadikan nama Sam Ratulangi.
Invertebrata berukuran kecil di terumbu karang dan habitat sekitarnya di wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) masih kurang dipahami karena proses pengumpulan dan pemilahannya memakan waktu, banyak spesies berukuran sangat kecil dan jumlahnya terbatas, serta hanya sedikit ahli taksonomi yang mengenal kelompok hewan ini, tulis peneliti di jurnal Evolutionary Systematics, terbit 8 Oktober 2026.
Mengingat semakin memburuknya kondisi habitat di dekat pantai akibat dampak aktivitas manusia dan pemanasan global, ada kemungkinan spesies punah, bahkan sebelum keberadaannya sempat tercatat.
Melalui tulisan ini, peneliti telah berkontribusi pada pengetahuan mengenai Isopoda di wilayah Sulawesi Utara (Indonesia), tempat sebagian besar terumbu karang masih dalam kondisi baik.
Hal ini karena sebagian besar hewan ditemukan merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan.
Deskripsi mengenai spesies-spesies tersebut menjadi landasan mendasar bagi studi ekologi selanjutnya.
