Darilaut – Cuaca di Indonesia diprakirakan tetap beragam. Kondisi relatif kering masih bertahan di sejumlah wilayah, sementara lainnya berpotensi hujan signifikan masih dapat terjadi secara local.
Meskipun dinamika iklim global secara umum masih cenderung membatasi pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, pengaruh atmosfer regional dan lokal tetap dapat memicu peningkatan aktivitas hujan di wilayah tertentu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau meskipun musim kemarau masih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal.
Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang berpotensi mengikuti, kata BMKG.
Menurut BMKG di tengah pengaruh kondisi iklim global tersebut, dinamika atmosfer regional masih berpotensi meningkatkan aktivitas pembentukan awan hujan di sebagian wilayah.
Pada periode 27 September – 4 Oktober 2026, aktivitas MJO secara spasial diprakirakan melintasi Samudra Hindia sebelah barat Sumatra dan memengaruhi wilayah Sumatra Barat, Kepulauan Mentawai, Riau, serta Sumatra Selatan.
Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin diprakirakan aktif secara bersamaan di sebagian wilayah Sumatra dan perairan sekitarnya, termasuk perairan utara Sabang, Aceh, serta Samudra Hindia barat Aceh. Adapun di wilayah Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, hingga perairan selatan Jawa Tengah. Pengaruh gelombang atmosfer lebih dominan berasal dari Gelombang Rossby Ekuatorial.
Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengatakan aktivitas gelombang-gelombang atmosfer tersebut dapat meningkatkan kondisi yang mendukung pertumbuhan awan hujan pada wilayah yang dilaluinya.
Selain itu, pola perlambatan dan belokan angin diprakirakan terbentuk di sebagian Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Papua Barat.
Pola tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya konvergensi massa udara dan memperkuat proses pembentukan awan hujan. Pada skala lokal, tingkat labilitas atmosfer yang kuat juga diprakirakan terdapat di sebagian Sumatra bagian utara dan tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, serta sebagian Papua.
Kondisi ini dapat memperkuat proses pengangkatan massa udara dan perkembangan awan konvektif, terutama apabila didukung oleh ketersediaan uap air yang cukup, kata BMKG.
Potensi hujan sepekan ke depan, periode 29 September – 1 Oktober 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini Siaga (hujan lebat – sangat lebat) di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Jawa Barat.
Angin kencang di Lampung, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.
Pada periode 2 – 5 Oktober 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Bara, dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini Siaga (hujan lebat – sangat lebat) di Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan.
Angin kencang di Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua Selatan.
