Darilaut – Kondisi kekeringan masih mendominasi awal Oktober 2026. Kondisi kering tersebut masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga akhir September 2026, sebagian wilayah Indonesia masih didominasi oleh Hari Tanpa Hujan kategori panjang hingga ekstrem Panjang.
Direktorat Meteorologi Publik BMKG mencatat 1.869 titik dalam kategori ekstrem panjang. Kondisi ini menunjukkan periode kering yang masih cukup persisten, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Sejalan dengan kondisi tersebut, kata BMKG, sejumlah titik panas (hotspot) juga masih terdeteksi pada 4 Oktober 2026. Sebanyak 261 titik panas terdeteksi di Sumatera, 212 titik di Kalimantan, serta 229 titik di Papua dan Maluku.
Pada hari yang sama, citra satelit Himawari juga masih menunjukkan sebaran asap di sebagian wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, menurut BMKG.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan masih perlu dipertahankan, khususnya di wilayah yang mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering seiring musim kemarau yang masih berlangsung.
Meskipun demikian, BMKG mencatat, hujan dengan intensitas lebat masih terjadi di sebagian wilayah Indonesia.
Pada periode 1–4 Oktober 2026, hujan lebat tercatat di Papua (96 mm/hari), Sumatera Barat (95 mm/hari), Aceh (66 mm/hari), Sumatera Utara (60 mm/hari), Nusa Tenggara Timur (59 mm/hari), Jawa Barat (57 mm/hari), dan Riau (51 mm/hari).
Kejadian tersebut didukung oleh dinamika atmosfer regional dan lokal, seperti aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin di wilayah Sumatera, perlambatan kecepatan angin di sekitar Jabodetabek dan Papua, serta suhu muka laut yang relatif hangat, sehingga memicu pengangkatan udara dan pembentukan awan hujan signifikan.
Kondisi ini menunjukkan kontras yang cukup nyata antarwilayah. Sebagian wilayah masih menghadapi kondisi kering dan peningkatan kerawanan karhutla, sementara di wilayah lainnya potensi hujan lebat hingga sangat lebat secara lokal tetap terbuka akibat dinamika atmosfer yang masih aktif, sehingga masyarakat tetap perlu waspada dan selalu memperbarui informasi cuaca dari BMKG.
