Darilaut – Diskusi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bekerja sama dengan BBC Media Action (BBC MA), menyebutkan bahwa kualitas informasi publik tidak boleh dikorbankan di tengah kompetisi konten.
Media dituntut kembali pada esensinya, untuk menyajikan informasi yang akurat dan terverifikasi. Sementara influencer, sebagai aktor baru yang berpengaruh, perlu didorong untuk mengedepankan tanggung jawab etis.
Kegiatan dengan tema “Diseminasi Riset Influencers dan Keberlanjutan Media di Indonesia” dengan dukungan dari IDN Times, pada Rabu (22/4).
Perspektif kritis disampaikan oleh Associate Professor of Public Policy dari Monash University, Ika Idris. Adanya ketimpangan dalam ekosistem influencer, khususnya terkait relasi dengan kekuasaan dan sumber pendanaan, kata Ika.
Dalam riset terhadap 16 influencer, ditemukan bahwa mereka yang cenderung pro-pemerintah memiliki sumber pendapatan yang lebih besar dan stabil. Sebaliknya, influencer yang kritis terhadap pemerintah sering menghadapi tantangan keberlanjutan.
Ika membagi praktik influencer dalam dua kategori. Pertama, clientelism sebagai hubungan transaksional berbasis bayaran dan kepentingan tertentu. Kedua, grassroots activism, yang merupakan dukungan berbasis ideologi atau preferensi personal, meski tetap berpotensi bias.
“Yang menarik, influencer yang kritis sebenarnya terbuka untuk kolaborasi dengan pemerintah, selama tidak menyentuh isu kebijakan yang sensitif,” kata Ika.
Namun, ika juga menyoroti adanya suatu paradoks, yaitu meski para influencer kuat dalam distribusi informasi, mereka masih bergantung pada media arus utama untuk legitimasi.
Dari sisi industri media, GM Digital Content Tribun Network, Yulis Sulistyawan, menegaskan bahwa kepercayaan tetap menjadi modal utama media.
“Media terkesan lambat karena harus melalui proses verifikasi, cek dan ricek, serta konfirmasi. Itu yang membedakan dengan influencer,” ujarnya.
Yulis mengingatkan bahwa jurnalisme bekerja dalam kerangka hukum dan etika, termasuk tunduk pada Undang-Undang Pers dan kode etik jurnalistik. Di tengah derasnya arus konten, media tetap memegang peran sebagai pilar demokrasi.
Namun, tantangan baru muncul melalui wefluencer, yaitu individu tanpa latar belakang kompetensi yang bebas memproduksi konten tanpa kontrol. Fenomena ini memperparah inflasi konten dan meningkatkan risiko disinformasi.
Co-founder & CEO Beecomms Indonesia, Rieke Amru, melihat situasi ini sebagai gelas yang “setengah kosong sekaligus setengah penuh.” Menurut Rieke, media tidak bisa lagi memposisikan influencer sebagai kompetitor semata. Sebaliknya, kolaborasi menjadi pendekatan yang lebih relevan.
“Media harus tetap fokus pada kualitas konten dan membangun public discourse. Tapi di saat yang sama, perlu merangkul influencer, termasuk membantu peningkatan kapasitas mereka, terutama dalam aspek teknis dan etika,” ujarnya.
Rieke menyoroti fenomena inflasi konten yang membuat publik justru kewalahan dan kehilangan orientasi terhadap kebenaran informasi.
Sementara itu, Founder Mari Kita Bahas, Ahmad Alimuddin, berbagi pengalaman personal sebagai kreator konten dan polarisasi tajam dalam narasi publik.
Di satu sisi, muncul berbagai konten pro-pemerintah yang cenderung berlebihan dan minim kritik.
“Namun di sisi lain, ada konten kritis yang memang sering kali tajam, tetapi jarang memberikan apresiasi terhadap kinerja pemerintah,” kata Alimuddin.
Masalah utama bukanlah persaingan antara media dan influencer. Hingga kini, influencer masih menjadikan media sebagai rujukan utama. Namun sayangnya, banyak yang hanya mengandalkan judul berita tanpa memahami konteks secara utuh.
Sebagai rekomendasi, hasil riset BBC Media Action menekankan perlunya kolaborasi yang lebih kuat antara media dan influencer untuk memperluas jangkauan informasi terpercaya, disertai peningkatan kapasitas serta pemahaman etika bersama.
Media juga dinilai perlu memperkuat persona, yakni identitas komunikasi yang kuat, serta proximity, yaitu kedekatan dengan konteks dan kebutuhan audiens digital.
Untuk mengakses laporan riset lengkap berjudul A Metamorphosis in Indonesian Media: The evolving roles of traditional media and influencers.
