IJTI Beri Penghargaan Lima Jurnalis di Palu

Tsunami Palu

Terjangan tsunami di depan kantor stasiun TVRI Palu, dekat jembatan kuning, Kota Palu. FOTO: DARILAUT.ID

PENDIRI dan anggota Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) memberikan penghargaan kepada lima jurnalis TV di Palu, Sulawesi Tengah. Ke lima jurnalis tersebut masing-masing, Abdy Mari (TV One), Ody Rahman (NET TV), Rolis Muhlis (Kompas TV), Jemmy Hendrik (Radar TV) dan Ary Al-Abassy (TVRI).

Penghargaan diberikan IJTI ini karena penilaian dan dedikasi ke lima jurnalis ini saat meliput dan membantu korban gempa-tsunami-likuifaksi di Palu, Donggala dan Sigi. Penghargaan ini diberikan setelah dengan cermat mempelajari kisah lima jurnalis ini.

Selain melakukan liputan dan termasuk korban bencana, dari sisi kemanusiaan lima jurnalis ini dengan mulia membantu korban gempa dan tsunami di wilayah Sulawesi Tengah.

Pendiri IJTI dan tokoh masyarakat Palu, Erick Tamalagi mengatakan, para jurnalis TV di Palu telah bekerja dengan sangat profesional. Apa yang dilakukan para jurnalis TV di Palu, adalah kesadaran yang tinggi sebagai seorang jurnalis dan kepala keluarga.

Kegigihan terus meliput dan mencari spot untuk mengirimkan gambar di saat jaringan internet sangat terbatas. Selain itu, membagi perhatian untuk keselamatan keluarga yang berada di pengungsian.

“Perjuangan yang sangat patut kita hargai,” kata Erick yang juga mengalami langsung bencana tersebut.

Erick sendiri bergerak membantu para korban. Ia mendatangi berbagai lokasi hingga ke pelosok untuk mendistribusikan bantuan. “Puji syukur keluarga saya selamat,” kata Erick yang juga mengungsikan seluruh keluarganya ke rumah famili yang lebih aman.

Menurut tokoh muda nasional asal Palu M Ichsan Loulembah, para jurnalis telah menuangkan laporan untuk melayani kemanusiaan dengan profesionalisme yang terjaga. Tanpa lelah, lupa melihat jam, mereka menyajikan suara dan gambar melalui televisi yang amat berarti bagi masyarakat.

“Hanya ini yang kami punya (untuk mereka), setulusnya ucapan terima kasih,” tulis Ichsan yang menjadi saksi kegigihan para jurnalis TV di Palu.

Ichsan tinggal di Jakarta. Begitu mendengar gempa dan tsunami di kampungnya, ia berusaha pulang. Tiba di Palu, pada hari ketiga pasca-tsunami, Ichsan membuka posko “Sulteng Bergerak” di rumah ibunya, di jalan Rajawali 24. Di rumah itu sebagai tempat untuk menyalurkan berbagai bantuan ke seluruh wilayah terdampak.*

Exit mobile version