Ikan Nike, Penyokong Kemunculan Hiu Paus di Gorontalo

Ikan hiu paus (Rhincodon typus, Whale Shark) dengan nama lokal Gorontalo munggiyango hulalo di perairan Botubarani, Bone Bolango. FOTO: DARILAUT.ID

TIDAK setiap hari ikan nike bermunculan di perairan Gorontalo, Teluk Tomini. Ikan-ikan kecil dengan sebutan duwo dalam bahasa Gorontalo, keberadaannya hanya setiap akhir bulan dalam penanggalan tahun Hijriah di perairan Gorontalo.

Di akhir bulan Hijriah, para nelayan sudah berkumpul di sabuah (rumah sementara) di pinggiran pantai Leato. Para penangkap nike berdatangan dari sejumlah kampung (desa/kelurahan) di Gorontalo.

Mereka akan menunggu di mana lokasi nike ini akan bermunculan. Lokasi paling jauh kemunculan ikan nike ini berada di Botubarani, perairan perbatasan Kota Gorontalo dan Bone Bolango.

Biasanya, dalam setiap bulannya ikan nike akan bermunculan di perairan Leato dan Tanjung Keramat.

Ikan nike tidak selalu bermunculan dalam jumlah banyak. Adakalanya, kemunculannya hanya 2 atau 3 malam. Ada juga sampai 5 hari.

Kemunculan ikan nike dalam jumlah banyak dikenal dengan istilah Gorontalo “tamboo lo duwo” yang menggunakan perhitungan bulan (Madjowa, 2019). Dalam setahun, tidak setiap bulan terdapat banyak hasil tangkapan ikan nike oleh nelayan.

Namun, ikan ini termasuk salah satu yang memiliki potensi ekonomi yang relatif tinggi. Ratusan nelayan penangkap nike bergantung pada kemunculan ikan-ikan kecil ini.

Bukan hanya nelayan penangkap ikan nike. Ikan hiu paus (Rhincodon typus) pun bermunculan di saat musim ikan nike.

Memang biasanya ikan hiu paus ini sering muncul di perairan Botubarani. Namun, para penangkap ikan nike dan pemancing ikan sering melihat hiu paus saat musim nike.

Hiu paus ini adakalanya masuk dalam jaring ikan nike. Nelayan akan bahu-membahu untuk melepas kembali hiu paus yang masuk dalam jaring tersebut.

Sejak zaman purba kala ikan raksasa hiu paus melintasi perairan Gorontalo, Teluk Tomini.

Agregasi hiu paus di perairan Gorontalo ini karena mangsanya, seperti ikan-ikan kecil ada di lokasi tersebut. Hal ini ditunjang pula dengan keberadaan fitoplankton dan zooplankton di perairan.

Di Gorontalo, hiu paus ini disebut dengan nama lokal munggiyango hulalo. Rekaman keberadaan hiu paus sudah ada sejak 2008. Adalah Miguel’s Diving Gorontalo, telah mencatat kemunculan Whale Shark, pada 16 September 2008.

Arsip Miguel’s Diving menyebutkan hiu paus ini memiliki panjang empat meter. Di tahun itu, beberapa kali Miguel’s Diving melihat hiu paus, bersama wisatawan lainnya.

Hiu paus menjadi salah satu yang menarik perhatian banyak pengunjung di Gorontalo, luar Gorontalo dan wisatawan luar negeri mulai pada 2016. Destinasi wisata hiu paus ini berada di perairan Botubarani, Bone Bolango.

Agregasi hiu paus di perairan Botubarani, telah memicu kontradiksi perlakuan terhadap satwa liar ini. Memahami agregasi sangat penting untuk memberikan informasi kepada wisatawan yang akan menyaksikan hiu paus.

Namun ini perlu dibarengi dengan manajeman ekowisata berbasis hiu paus yang ketat, ditunjang dengan regulasi kuat. Tidak hanya sebatas di atas kertas saja.

Tanpa manajeman yang baik dan dijalankan sesuai dengan pedoman perilaku akan memberi efek negatif terhadap hiu paus.

Karena itu, dalam menajemen pengelolaan hiu paus, banyak faktor yang dapat menunjang keberadaan satwa liar ini. Salah satunya, kemunculan ikan nike setiap akhir bulan Hijriah.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Botubarani Wahab Matoka mengatakan, bila musim ikan nike, hiu paus pergi mencari makan di lokasi kumunculan ikan-ikan kecil tersebut.

Hingga saat ini belum terjadi persaingan hiu paus yang memangsa ikan-ikan kecil dengan para nelayan nike. Namun, pengelolaan ikan nike mulai dari hulu hingga hilir dan laut Gorontalo harus diutamakan untuk mempertahankan keberlanjutan spesies ini.

Menurut dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Negeri Gorontalo Dr Femy M Sahami, keberlanjutan dari komoditas perikanan nike akan sangat tergantung pada tindakan yang akan dilakukan ke depan.

“Supaya ikan nike tetap melimpah di perairan, maka perlu adanya komitmen. Ikan nike akan tetap ada jika induknya yang hidup di dalam aliran sungai tetap ada,” ujar Femy, Kamis (6/2).

Hal penting lainnya, menurut Femy, adalah akses telur masuk ke perairan laut. Jika ini tidak dapat dikendalikan, maka suatu saat ikan nike tidak akan muncul lagi di perairan laut Teluk Gorontalo.*

Exit mobile version