Darilaut – Tim mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil menembus ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-39 Tahun 2026.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Huyula mahasiswa UNG menghadirkan inovasi edukasi kesiapsiagaan bencana yang memadukan permainan interaktif, kearifan lokal Gorontalo, dan pemanfaatan sampah plastik pantai.
Tim Huyula mengusung program bertajuk “Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Anak Pesisir Tanjung Kramat melalui Pendekatan Huyula Berbasis Edukasi Interaktif dengan Pemanfaatan Alih Guna Sampah Plastik Pantai”.
Program ini dirancang untuk membantu anak-anak di wilayah pesisir Tanjung Kramat, Kota Gorontalo, memahami langkah-langkah menghadapi situasi darurat melalui pembelajaran yang menyenangkan, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tim Huyula diketuai oleh Nurul Fauziah Sabir, dengan anggota Siti Muthia Sulaeman, Muh Hafizh Afriyad Lamusu, dan Rayhan Ramadhan Ali dari Program Studi Kedokteran, serta Amanda Nuraini P. Zakaria dari Program Studi Ilmu Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Tim ini berada di bawah bimbingan dr. Abdi Dzul Ikram Hasanuddin, M.Biomed. Keterlibatan mahasiswa dari bidang kedokteran dan ilmu lingkungan memperlihatkan pendekatan lintas disiplin dalam merancang solusi edukatif yang menjawab kebutuhan masyarakat pesisir.
Ketua tim, Nurul Fauziah Sabir, menjelaskan bahwa tim menggunakan berbagai metode edukatif, mulai dari permainan interaktif, pengenalan tas siaga bencana, hingga simulasi kebencanaan. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai kesiapsiagaan, tetapi juga diajak mengenali tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.
Pembelajaran dirancang agar pesan keselamatan dapat diterima secara lebih menarik dan mudah diingat, kata Nurul.
Keunikan program ini terletak pada penerapan nilai huyula, yaitu semangat gotong royong dan kerja sama yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Gorontalo. Nilai tersebut diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran untuk menanamkan pemahaman bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya tentang menyelamatkan diri sendiri, melainkan juga membangun kepedulian dan saling membantu ketika menghadapi keadaan darurat.
Inovasi ini juga menghubungkan pendidikan kebencanaan dengan persoalan lingkungan melalui pemanfaatan sampah plastik pantai sebagai media pembelajaran. Pendekatan ini membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Hal ini sekaligus sebagai wadah untuk memahami bahwa kepedulian terhadap kawasan tempat tinggal merupakan bagian dari “upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana,” kata Nurul.
Keberhasilan lolos ke PIMNAS ke-39 menjadi kesempatan bagi tim Huyula untuk membawa gagasan pengabdian berbasis potensi lokal Gorontalo ke panggung nasional. Ajang tersebut dijadwalkan berlangsung pada 2–7 November 2026 di Universitas Diponegoro, Semarang.
Partisipasi ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan, menguji relevansi inovasi, dan memperluas kontribusi akademik bagi masyarakat.
