Zulkifli Tanipu, M.A.,Ph.D., Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo
Setiap kali kemampuan bahasa Inggris dinilai belum memuaskan, perhatian kita hampir selalu tertuju pada individu. Pembelajar bahasa Inggris dianggap kurang rajin membaca, kurang berlatih berbicara, atau kurang memiliki motivasi.
Penjelasan itu memang terdengar masuk akal, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan. Jika kesulitan yang sama terus muncul di berbagai sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga kursus, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya pembelajarnya, melainkan sistem pembelajaran yang membentuk pengalaman belajar mereka.
Selama ini, pembelajaran bahasa Inggris lebih banyak diarahkan pada penguasaan materi. Pembelajar mempelajari tata bahasa, menghafal kosakata, mengerjakan latihan, lalu dinilai melalui tes yang mengukur ketepatan jawaban.
Semua itu penting sebagai fondasi, tetapi fondasi belum tentu menghasilkan kemampuan berkomunikasi. Inilah sebabnya banyak pembelajar mampu mengerjakan soal dengan baik, namun masih kesulitan menyampaikan pendapat, menulis argumen, atau berdiskusi dalam bahasa Inggris.
Persoalan tersebut tidak lahir dari satu ruang kelas saja. Kurikulum menentukan apa yang diprioritaskan untuk dipelajari, asesmen menentukan apa yang dianggap sebagai keberhasilan, sementara pendidik bahasa Inggris menyesuaikan strategi mengajar dengan tuntutan tersebut.
Pada akhirnya, pembelajar pun belajar mengikuti pola yang paling sering dihargai. Jika sistem lebih banyak memberi penghargaan pada jawaban benar daripada kemampuan menggunakan bahasa, hasilnya akan cenderung seragam di berbagai tempat.
Dari perspektif psikolinguistik, kondisi ini dapat dipahami sebagai hambatan kognitif kolektif. Artinya, kesulitan belajar tidak hanya dialami oleh satu individu, tetapi muncul karena lingkungan pembelajaran secara bersama-sama membatasi perkembangan kemampuan berbahasa.
Ketika pola kesulitan ditemukan pada banyak pembelajar dengan latar belakang yang berbeda, persoalannya sudah bergeser dari ranah individu menuju ranah sistem.
Kita dapat melihatnya melalui budaya literasi yang berkembang di lingkungan pendidikan. Banyak pembelajar lebih akrab dengan ringkasan materi daripada bacaan utuh, lebih sering berlatih menjawab soal daripada membangun argumen, dan lebih terbiasa mengingat informasi daripada menggunakannya dalam tulisan atau diskusi.
Akibatnya, kemampuan mengenali bentuk bahasa berkembang lebih cepat dibanding kemampuan berpikir dan berkomunikasi melalui bahasa tersebut.
Situasi ini juga menjadi refleksi penting bagi pendidik bahasa Inggris. Peran pendidik bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi merancang pengalaman belajar yang memungkinkan pembelajar membaca secara mendalam, berdiskusi, menulis, dan menggunakan bahasa dalam konteks yang autentik.
Pembelajaran yang efektif lahir ketika seluruh komponen kurikulum, asesmen, strategi mengajar, dan budaya literasi bergerak menuju tujuan yang sama.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara bertanya. Bukan lagi, “Mengapa pembelajar bahasa Inggris belum mampu berbahasa Inggris dengan baik?” melainkan, “Apakah sistem pembelajaran kita sudah memberi mereka kesempatan untuk benar-benar belajar bahasa?” Sebab kualitas kemampuan bahasa pada akhirnya bukan hanya cerminan usaha individu, tetapi juga cerminan kualitas sistem yang membentuk proses belajar itu sendiri. (Zulkifli Tanipu, alumnus The University of Sheffield – Psycholinguistics, Inggris)
