Darilaut – Dengan mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastis serta menyingkirkan karbon dioksida dari atmosfer, umat manusia dapat meminimalkan puncak suhu dan merintis jalan kembali ke angka 1,5°C pada akhir abad ini.
Melansir Unep.org peluang untuk menjaga pemanasan global agar tetap berada di angka 1,5°C di atas tingkat pra-industri—dengan kondisi tanpa pelampauan (overshoot) atau hanya pelampauan terbatas—yang merupakan target utama dalam Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, kini telah sirna.
Menurut Emissions Gap Report 2026: The Point of Return (Laporan Kesenjangan Emisi 2026: Titik untuk Kembali) yang diterbitkan pada 21 Oktober oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), pelampauan ini tidak harus bersifat permanen.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa ini adalah opsi terbaik yang tersisa untuk membatasi dampak perubahan iklim.
“Kita telah menghabiskan waktu berdekade-dekade untuk menunda pengurangan emisi, dan kini kita harus menanggung konsekuensinya,” ujar Anne Olhoff, Direktur UNEP-Copenhagen Climate Centre.
“Dunia masih bisa mencapai tujuan Perjanjian Paris, tetapi kita harus berupaya keras—bukan sekadar memenuhi, melainkan melampaui target iklim kita yang paling ambisius sekalipun. Semakin lama kita menunggu, semakin besar risiko kita menggagalkan target suhu tersebut.”
Membatasi pelampauan target 1,5°C bukan berarti akan terhindar dari dampak negatif perubahan iklim—yang bisa mencakup berbagai hal, mulai dari kekeringan dan banjir hingga badai dahsyat yang lebih sering terjadi.
Akan tetapi, langkah ini akan membantu meminimalkan dampak tersebut. Selain itu, setiap tahun tambahan pemanasan di atas 1,5°C meningkatkan risiko terjadinya perubahan parah yang tidak dapat dipulihkan, dengan konsekuensi katastrofik bagi umat manusia. Perubahan ini mencakup kondisi lapisan es, karbon dalam lapisan tanah beku (permafrost), sirkulasi laut, dan terumbu karang.
Di tengah lonjakan suhu dekade ini, laporan terbaru tersebut mengurai berbagai opsi bagi umat manusia untuk mengendalikan perubahan iklim.
Laporan ini meninjau skenario pelampauan 1,5°C yang “serendah mungkin”. Dalam skenario ini, umat manusia membatasi puncak pemanasan di angka 1,7–1,8°C sekitar pertengahan abad ini, kemudian menurunkan kembali suhu tersebut hingga mencapai atau berada di bawah 1,5°C.
Hal ini menuntut pengurangan emisi yang berkelanjutan serta upaya penyingkiran karbon dioksida.
Mencapai tujuan agar suhu kembali ke angka 1,5°C pada akhir abad ini tentu tidaklah mudah. Hal ini berarti pengurangan emisi gas rumah kaca harus dilakukan secara langsung dan agresif, yakni sebesar 18 persen pada tahun 2030, 45 persen pada tahun 2035, dan 69 persen pada tahun 2040.
Ini berarti tingkat pengurangan tahunan mencapai hampir 6 persen dari tahun 2025 hingga 2035—pengurangan yang jauh lebih ketat dibandingkan dengan yang tercantum dalam laporan penilaian terkini dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).
Namun, laporan tersebut menemukan bahwa jika berbagai negara memulainya tahun ini dan mengikuti lintasan tersebut, terdapat peluang 50 persen untuk kembali ke tingkat pemanasan 1,5°C pada tahun 2100.
Tindakan segera sangatlah krusial; setiap lima tahun emisi karbon dioksida pada tingkat saat ini akan meningkatkan pemanasan sekitar 0,1°C.
Untuk mencapai pengurangan emisi global seperti yang diuraikan di atas, diperlukan peningkatan target sektoral—yang sebenarnya sudah ambisius—sebagaimana ditetapkan dalam Global Stocktake (peninjauan kemajuan global) pertama di bawah Perjanjian Paris.
Menjelang tahun 2035, kapasitas listrik dari sumber terbarukan harus meningkat tiga kali lipat, dan porsi batu bara dalam pasokan energi kita harus berkurang lebih dari separuhnya. Emisi metana—gas rumah kaca yang sangat kuat—harus diturunkan sebesar 25 persen; semua target ini dibandingkan dengan tingkat emisi pada tahun 2025.
