Darilaut – Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) mengalami defisit di bulan Februari 2020. Nilai tukar di sektor perikanan ini anjlok 50 persen atau kurang dari 100 (<100).
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kamis 5 Maret 2020, jumlah provinsi dengan NTN <100 sebanyak 18 atau sekitar 52,94 persen dari 34 Provinsi. Untuk NTPi pada Februari yang <100 berada di 17 provinsi atau 50 persen.
Menurut ahli ekonomi kelautan Dr Suhana, jumlah provinsi dengan nilai NTN < 100 di bulan Februari meningkat sekitar 38,46 persen, dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 13 provinsi.
Suhana mengatakan, NTN <100 menunjukan bahwa rumah tangga nelayan kecil mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil, dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Dengan kata lain pendapatan nelayan turun, lebih kecil dari pengeluarannya.
Ke 18 provinsi yang mengalami penurunan NTN masing-masing Bengkulu, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Aceh, DKI Jakarta, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara, Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah. Kemudian Sulawesi Selatan, Riau, Jawa Barat, Sumatera Utara, Bali, Banten, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Barat.

NTN bulan Januari dan Februari menurut Provinsi (BPS, 2020, Diolah Suhana)
Provinsi dengan nilai NTN terbesar (>100) pada Februari adalah Papua (110,41), Jambi (106,73), Kepulauan Bangka Belitung (106,61), Maluku (105,04) dan Kalimantan Timur (103,96). Kemudian DI Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat dan Maluku Utara.





Komentar tentang post