Panas Ekstrem dan Kebakaran Hutan Melanda Australia

GAMBAR: Bureau of Meteorology Australia/WMO

Darilaut – Kondisi ekstrem baik itu cuaca dan iklim terjadi di berbagai negara Januari 2026. Di Australia, sebagian besar wilayah telah dilanda dua gelombang panas pada bulan Januari, dengan kondisi cuaca yang berbahaya bagi kebakaran.

Kota Ceduna di Australia Selatan mencapai suhu 49,5°C pada tanggal 26 Januari – rekor baru untuk lokasi tersebut, sementara hanya sedikit tempat lain di sekitar Australia Selatan, barat laut Victoria, pedalaman New South Wales, dan barat daya Queensland yang mencapai suhu di atas 45°C, menurut  Biro Meteorologi (Bureau of Meteorology – BOM) Australia.

Otoritas Australia mengeluarkan peringatan gelombang panas, dengan pesan yang jelas yang merupakan komponen penting dalam menyelamatkan nyawa dan melindungi kesehatan masyarakat dari apa yang sering dikenal sebagai pembunuh senyap.

Peringkat bahaya kebakaran dikategorikan tinggi hingga ekstrem karena kombinasi panas dan angin kencang, termasuk di seluruh Victoria, yang sebelumnya dilanda kebakaran hutan besar.

Gelombang panas akhir Januari adalah yang kedua yang melanda Australia dalam waktu kurang dari sebulan.

Para ilmuwan World Weather Attribution menggabungkan analisis berbasis pengamatan dengan model iklim untuk mengukur peran perubahan iklim dalam peristiwa 5-10 Januari dan menyimpulkan bahwa perubahan iklim membuat panas ekstrem sekitar 1,6°C lebih panas.

Di Chili, kebakaran hutan mematikan melanda wilayah Biobio dan Nuble, memaksa puluhan ribu orang mengungsi, menghancurkan ratusan bangunan, dan mengakibatkan setidaknya 21 korban jiwa.

Keadaan darurat diumumkan karena 75 kebakaran terpisah menyebar di bawah panas dan angin ekstrem.

Di Argentina Selatan, suhu tinggi, kekeringan berkepanjangan, dan angin kencang bergabung untuk memicu kebakaran dahsyat di Patagonia.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga menyoroti hujan lebat dan banjir yang terjadi sejumlah wilayah di dunia Januari 2026.

WMO mencatat lebih dari 50 orang meninggal dunia karena tanah longsor di Provinsi Jawa Barat, pada 24 Januari.

Bencana ini dipicu oleh curah hujan lebat. Akan tetapi, menurut WMO, penyebab mendasar dari tragedi tersebut adalah persamaan risiko yang lebih kompleks termasuk karakteristik geologis, kemiringan lereng, stabilitas tanah, dan praktik penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan.

Exit mobile version