Pasifik Khatulistiwa Bagian Barat di Utara Indonesia Titik Awal Siklus El Nino

GAMBAR: BRIN

Darilaut – Kawasan Pasifik Khatulistiwa bagian barat masih jarang diteliti. Padahal kawasan di utara Papua, Indonesia, ini sebagai titik awal siklus El Nino.

Menurut Daniel Rudnick dari Scripps Institution of Oceanography, kawasan tersebut memegang peran kunci penting dalam memahami titik awal siklus El Nino.

Berdasarkan pengalaman riset global selama 20 tahun di berbagai wilayah seperti Laut Solomon, Palau, hingga Kepulauan Galapagos, Rudnick menjelaskan bahwa arus utama yang menjadi pemicu terciptanya El Nino-Southern Oscillation (ENSO) ternyata bermula dari perairan sebelah utara Papua.

“Titik awal arus penting tersebut berada di sebelah utara Indonesia, yang menjadikan perairan utara Papua sangat krusial untuk dipelajari,” Rudnick seperti dikutip dari Brin.go.id.

“Saya ingin menyarankan agar kolaborasi dalam pekerjaan glider di wilayah ini dapat menjadi fondasi bagi kemitraan di masa depan antara institusi-institusi kita dan negara-negara kita.”

Melalui kombinasi teknologi robot bawah air dan analisis arus laut yang tajam, BRIN bersama Scripps berupaya menutup celah informasi ilmiah agar sinyal-sinyal perubahan iklim global dapat diterjemahkan menjadi peringatan dini yang nyata dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Pemanfaatan robotik bawah air berbentuk mirip pesawat luncur (spray underwater glider) yang dapat menyelam secara otomatis dari permukaan hingga kedalaman 1.000 meter untuk memantau perubahan suhu, kadar garam, hingga gelombang panas di lautan, kata Rudnick.

Anomali di Wilayah Indonesia

Dalam kondisi terkini, anomali tetap tertekan di wilayah Indonesia, Samudra Pasifik bagian barat khatulistiwa. El Niño yang terus menguat tersebut, dengan kemungkinan terjadinya El Niño kategori kuat hingga sangat kuat hingga periode Januari-Maret 2027.

Menurut Climate Prediction Centre (CPC)  National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS, peluang ini tetap di atas 83%.

NOAA mengatakan El Niño semakin menguat bulan lalu, dengan anomali suhu permukaan laut melebihi +4,0°C di sebagian wilayah Pasifik khatulistiwa bagian timur.

Sebagian besar indeks Niño meningkat dalam sebulan terakhir, mencapai +2,1°C pada Niño-3.4, +3,0°C pada Niño-3, dan +3,9°C pada Niño-1+2.

Indeks suhu bawah permukaan khatulistiwa (rata-rata dari 180°-100°BB) berada jauh di atas rata-rata, yang mencerminkan kedalaman termoklin yang lebih dalam dari rata-rata.

Suhu bawah permukaan tetap berada di atas +10,0°C pada kedalaman tertentu di Samudra Pasifik bagian timur.

Anomali angin barat di lapisan bawah dan anomali angin timur di lapisan atas membentang dari Pasifik khatulistiwa bagian barat hingga tengah-timur, kata NOAA. Konveksi dan curah hujan yang meningkat terus terjadi dari Pasifik bagian tengah hingga timur, sementara anomali tetap tertekan di wilayah Indonesia.

Suhu Permukaan Laut

Tingginya suhu permukaan laut atau sea surface temperature (SST) pada bulan September 2026 mencerminkan kondisi El Niño yang berkembang pesat di Pasifik khatulistiwa. Anomali SST tersebut jauh di atas rata-rata di banyak wilayah samudra.

Dalam Buletin Iklim bulanan terbaru, Copernicus Climate Change Service (C3S) mengatakan rekor SST harian dan bulanan tertinggi sebelumnya untuk bulan September tercatat pada tahun 2023, saat peristiwa El Niño yang kuat juga sedang berkembang.

Namun, kata C3S, berdasarkan anomali SST di wilayah Niño 3.4, El Niño saat ini sudah jauh lebih kuat dibandingkan peristiwa tahun 2023 pada tahap perkembangan yang sama.

Rata-rata suhu permukaan laut di wilayah samudra di luar kutub (60°LS–60°LU) untuk bulan September 2026 adalah 21,05°C, menurut C3S. Angka ini merupakan rekor tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan September.

Angka tersebut hanya sedikit di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada bulan Agustus (21,07°C).

Exit mobile version