Darilaut – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo Setiyo Pranowo dan Muhammad Reza Cordova, melakukan identifikasi dan analisis tumpahan batu bara dari tongkang BG Santoso 6 di perairan Mororejo, Kabupaten Jepara.
Verifikasi lapangan ini sebagai dukungan ilmiah untuk pembuktian dugaan pencemaran akibat tumpahan batu bara. Kegiatan ini berlangsung pada 28 Juli hingga 1 Agustus 2026.
Proses verifikasi lapangan dikoordinasi oleh Direktorat Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup (PSLH), Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, pihak P&I Insurance, serta para akademisi dan profesional dari berbagai bidang keahlian.
Dalam kegiatan tersebut, Peneliti Ahli Utama Prof. Widodo Setiyo Pranowo dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) dan Prof. Muhammad Reza Cordova dari Pusat Riset Oseanologi (PRO) memberikan dukungan ilmiah untuk mengidentifikasi pola sebaran material batu bara di laut sekaligus mengevaluasi kondisi lingkungan perairan yang terdampak.
Widodo bertugas mengumpulkan dan menganalisis kondisi hidro-oseanografi Perairan Mororejo sebagai dasar untuk memprediksi sebaran serpihan batu bara. Analisis tersebut dilakukan melalui pemodelan hidrodinamika yang mengintegrasikan data batimetri, arus, angin, pasang surut, dan gelombang laut.
Berdasarkan hasil pemodelan tersebut, tim menentukan titik-titik stasiun pengambilan sampel air, sedimen, bentos, pengukuran arus, hingga lokasi penyelaman. Sehingga, proses verifikasi lapangan dapat berlangsung lebih efektif dan tepat sasaran.
Verifikasi dilakukan dengan memanfaatkan pemodelan hidrodinamika untuk memprediksi arah dan luas sebaran serpihan batu bara berdasarkan kondisi arus, pasang surut, gelombang, angin, serta batimetri perairan.
”Hasil prediksi ini menjadi dasar penentuan titik-titik sampling. Sehingga, survei lapangan dapat dilakukan secara lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran,” kata Widodo, seperti dikutip dari Brin.go.id Selasa, (4/8).
Hasil analisis tersebut dipaparkan Widodo kepada seluruh anggota tim verifikasi lapangan di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara sebelum tim turun ke lapangan. Paparan tersebut menjadi acuan bagi tim pengambilan sampel air, sedimen, dan bentos, tim penyelaman, tim pengukuran oseanografi, tim susur pantai, hingga tim sosial ekonomi dalam menyusun strategi pengumpulan data di lapangan.
Selain memodelkan sebaran material batu bara, tim juga mengkaji karakteristik oseanografi dan geomorfologi lokasi kandasnya tongkang. Berdasarkan peta e-navigasi Pushidrosal TNI AL, lokasi kejadian berada di kawasan perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 1,5–2 meter, disertai keberadaan gosong, batu (stone), dan substrat lumpur (mud) yang berpotensi memengaruhi dinamika perairan sekaligus menjadi perhatian bagi keselamatan pelayaran.
Analisis yang dipadukan dengan informasi Allen Coral Atlas menunjukkan dasar perairan di sekitar lokasi tersusun atas pasir dan pecahan karang, campuran terumbu karang dan alga, serta ekstensi terumbu karang. Karakteristik dasar laut tersebut menjadi salah satu informasi penting dalam memahami potensi sebaran material batu bara dan dampaknya terhadap ekosistem pesisir, kata Widodo.
Analisis juga memanfaatkan model oseanografi global yang dikonfirmasi menggunakan citra satelit untuk mengidentifikasi pola penjalaran gelombang di perairan Jepara. Hasil analisis menunjukkan gelombang dominan datang dari arah utara hingga timur laut.
Data pemodelan juga merekam kondisi tinggi gelombang pada beberapa periode sejak tongkang mulai mengalami kemiringan pada akhir Juni hingga kondisi terakhir pada Juli 2026. Informasi tersebut dipadukan dengan pemodelan arus dan pasang surut untuk memperkirakan arah perpindahan serpihan batu bara. Sehingga, lokasi yang berpotensi terdampak dapat diprioritaskan dalam kegiatan verifikasi lapangan.
Sementara itu, Reza berperan melakukan pengambilan sampel air, sedimen, dan bentos untuk mengidentifikasi keberadaan material batu bara sekaligus menganalisis tingkat pencemaran dan potensi kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Hasil analisis tersebut selanjutnya dibandingkan dengan baku mutu lingkungan sebagai dasar penilaian kondisi ekosistem perairan.
Analisis terhadap sampel air, sedimen, dan bentos diperlukan untuk mengetahui tingkat pencemaran serta membandingkannya dengan baku mutu lingkungan. Hasil analisis tersebut menjadi dasar ilmiah dalam menilai kondisi ekosistem perairan pascakejadian, kata Reza.
