Peneliti Pola Gerak Hiu yang Hilang Perairan Gili Tepekong Belum Ditemukan

FOTO: BASARNAS

Darilaut – Peneliti Pola Gerak Hiu yang hilang saat melakukan penyelaman Sabtu (12/12) di perairan Gili Tepekong Kabupaten Karangasem, Bali, belum ditemukan. Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali) menghentikan pencarian, Jumat (18/12).

Operasi SAR yang telah dilaksanakan oleh tim SAR gabungan selama 7 hari belum membuahkan hasil. Meskipun pengerahan SRU laut, darat dan udara juga sudah dioptimalkan, tetapi tidak juga terlihat tanda-tanda keberadaan korban.

Korban atas nama I Gede Surya Risuana (26 tahun), saat itu tergabung bersama dalam rombongan tim Peneliti Pola Gerak Hiu. Tujuan kegiatan tersebut untuk monitoring alat penerima sinyal. Surya melakukan penelitian bawah laut bersama 6 rekannya yang lain.

Kepala Kantor Basarnas Bali Gede Darmada mengatakan, laporan diterima Sabtu (12/12) pukul 11.30 Wita dari Ibu Punpun. Sebanyak 7 orang peneliti melakukan penyelaman pukul 10.42 Wita.

Berselang 8 menit kemudian, 6 orang telah selesai melaksanakan penyelaman. Namun 1 orang belum kembali. Tim ini telah berupaya melakukan pencarian dengan menggunakan fast boat, dengan hasil nihil.

Basarnas Bali mengirimkan personil dari Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem menuju lokasi. Bergabung pula personil laun untuk menyisir perairan menggunakan RIB (Rigid Inflatable Boat).

Posisi kejadian diperkirakan berada di koordinat 8°31’57.85″S – 115°35’1.66″E, berjarak 1,74 NM heading 141,66° dari Pantai Candidasa.

Pada Minggu (13/12) Basarnas Bali mengerahkan Heli SAR BO 105. Sekitar Total luas area pencarian melalui pantauan udara berkisar 116 Nm².

Kurang lebih 1 jam mengudara, heli BO 105 landing kembali di Bandara Ngurah Rai dengan hasil masih nihil. Pencarian melalui penyelaman juga dilakukan di sekitar lokasi kejadian.

Unsur SAR yang terlibat selama operasi dalam 7 hari di antaranya Pos SAR, Dit Samapta Polda Bali, Dit Polair Polda Bali Pos Padangbai, TNI Angkatan Laut Pos Candidasa, Polair Polres Karangasem, SPKKL Bakamla Bali, Balawista, World Wide Fund For Nature, keluarga korban dan masyarakat setempat.

Exit mobile version