Peneliti UNG Kembangkan Cara Menghentikan Risiko Erosi di DAS Bolango

Lereng curam di kawasan DAS Bolango. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Daerah aliran sungan (DAS) Bolango mengalami tekanan perubahan penggunaan lahan dari tahun ke tahun. Tekanan ini karena berkurangnya kawasan hutan, pertanian lahan kering dan pemukiman.

Temuan tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) perlindungan lereng curam dan praktik konservasi pertanian dapat menghentikan atau menurunkan erosi secara signifikan.

Melindungi lereng curam dan memperkuat praktik tanam kontur memberi dampak paling nyata menekan erosi, kata peneliti UNG Prof. Dr. Fitryane Lihawa, Dr. Iswan Dunggio dan Rahmat Jaya Lahay.

Tim peneliti mengembangkan model terpadu yang menggabungkan Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) dan Agent-Based Modeling (ABM) untuk memetakan, memprediksi, dan menguji skenario pengendalian erosi di DAS Bolango.

“Temuan utama kami sederhana, melindungi lereng curam dan memperkuat praktik tanam kontur memberi dampak paling nyata menekan erosi,” ujar tim peneliti.

Dengan model ini, sekaligus membantu pemerintah merancang kebijakan tata ruang dan konservasi berbasis data.

Pemerintah daerah bisa menguji kebijakan di ‘laboratorium digital’ sebelum diterapkan di lapangan.

Menurut peneliti yang paling menentukan adalah vegetasi dan tata kelola penutupan lahan. Ketika tutupan membaik dan aturan dipatuhi, risiko erosi turun dan sistem DAS menjadi lebih stabil.

DAS Bolango mengalami tekanan perubahan penggunaan lahan dalam periode 2013-2033. Model proyeksi menunjukkan hutan menurun 14,25%, sementara pertanian lahan kering naik 42,37% dan permukiman melonjak 122,24%.

Perubahan ini berpotensi meningkatkan limpasan permukaan, sedimen, dan kerawanan bencana hidrometeorologi di hilir.

Daerah aliran Sungai Bolango. FOTO: DARILAUT.ID

Penelitian ini memadukan: Analisis spasial GIS & Google Earth Engine untuk menghitung faktor-faktor erosi (R, K, LS, C, P). Prediksi perubahan penggunaan lahan hingga 2033 memakai model PLUS.

ABM untuk mensimulasikan perilaku para aktor seperti petani, pemerintah, dan investor yang memengaruhi keputusan penggunaan lahan dan praktik konservasi.

Model menunjukkan akurasi yang kuat (mis. R kuadrat = 0,83 dan RMSE = 12,7 t/ha/tahun), sehingga layak sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Temuan kunci (yang relevan untuk publik & pembuat kebijakan)Rata-rata erosi berubah dari waktu ke waktu.

Rata-rata kehilangan tanah (soil loss) turun dari 59,08 t/ha/tahun (2013) menjadi 49,22 t/ha/tahun (2023), lalu sedikit naik menjadi 50,17 t/ha/tahun (2033). Tanpa intervensi, erosi total 2033 diproyeksikan sangat besar.

Skenario Business-as-Usual (BAU) memproyeksikan erosi total mencapai 2,63 juta ton/tahun pada 2033.

Intervensi berbasis praktik tani dan perlindungan lereng sangat efektif. Skenario Contour Farming (tanam mengikuti kontur) menurunkan erosi total menjadi 1,92 juta ton/tahun (turun 27%).

Skenario Perlindungan Lereng >25% (zona lindung pada lereng curam) menurunkan erosi menjadi 1,28 juta ton/tahun (turun 51%) dan meningkatkan stabilitas penggunaan lahan (fluktuasi turun 20%).

Daerah aliran Sungai Bolango. FOTO: DARILAUT.ID

Kunci terbesar pengendalian erosi adalah tutupan vegetasi. Analisis sensitivitas menempatkan faktor C (tutupan lahan/ vegetasi) sebagai pengaruh paling dominan terhadap variasi erosi.

Artinya pemulihan vegetasi, agroforestri, dan pencegahan pembukaan lahan di zona rawan adalah “tuas” kebijakan paling kuat.

Rekomendasi kebijakan, berdasarkan simulasi, peneliti menekankan dua arah aksi yang paling “berdampak cepat”: percepat konservasi pertanian di lereng 9–25% melalui tanam kontur, strip cropping, mulsa, dan penguatan bahan organik tanah.

Tegakkan perlindungan kawasan pada lereng >25% (selaras dengan arahan penataan ruang), karena ini menghasilkan penurunan erosi paling besar dan meningkatkan stabilitas tata guna lahan.

Exit mobile version