Darilaut – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan El Niño telah terbentuk secara nyata dan masih akan menjadi peristiwa yang sangat kuat dalam beberapa bulan mendatang.
Dalam bahasa Spanyol, sebutan El Niño berarti ‘anak laki-laki’, namun fenomena ini berpotensi memberikan dampak sangat berat bagi masyarakat dan perekonomian di seluruh dunia.
Dampak besar tersebut seperti pola curah hujan dan suhu, serta risiko terkait berupa banjir, kekeringan, dan panas ekstrem.
”Kita sudah melihat gangguan dan kehancuran akibat kekeringan serta banjir, dan kita memperkirakan dampak-dampak ini akan meningkat seiring dengan menguatnya El Niño,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
WMO merilis pembaruan kondisi terkini dan perkembangan status fenomena El Niño-Southern Oscillation di Jenewa, Swiss, pada Kamis (3/9).
Prakiraan dari Pusat Produksi Global WMO menunjukkan “kemungkinan yang sangat tinggi, mendekati 100%,” bahwa El Niño akan terus berlangsung hingga Februari 2027.
Ini adalah kali pertama Pembaruan El Niño/La Niña WMO memberikan pernyataan yang begitu tegas, mencerminkan kesepakatan kuat di dalam jaringan luas WMO.
Didorong oleh kondisi suhu laut yang sangat hangat di seluruh wilayah Pasifik tropis, El Niño diperkirakan akan semakin menguat dalam beberapa bulan mendatang hingga mencapai intensitas yang sangat tinggi sebelum mencapai puncaknya menjelang akhir tahun ini, dengan dampak iklim yang terus berlanjut hingga tahun 2027.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan El Niño sedang membesar secara luar biasa di depan mata kita. Bukti ilmiah tidak menyisakan ruang untuk keraguan: planet ini sedang berada di wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan perairan tersebut kian memanas.
“Suhu permukaan laut meningkat, suhu terus naik, dan dunia berada dalam zona bahaya cuaca ekstrem. Perlombaan saat ini adalah antara meningkatnya risiko dan komitmen kita untuk melakukan aksi iklim serta melindungi masyarakat. Kita harus memenangkan perlombaan itu,” ujar Guterres.
Menurut Saulo, El Niño yang luar biasa ini menuntut persiapan dan respons yang luar biasa pula.
Belum pernah sebelumnya dalam sejarah 50 tahun Organisasi Meteorologi Dunia, “kami meluncurkan mobilisasi sebesar ini bersama Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional yang berada di garis depan dalam penyediaan prakiraan dan layanan untuk menyelamatkan nyawa serta mata pencaharian,” ujarnya.
WMO berkomitmen untuk bekerja sama erat dengan berbagai mitra di lingkup Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sistem kemanusiaan guna menyediakan informasi serta wawasan iklim yang diperlukan untuk mendukung manajemen bencana dan sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim, seperti pertanian, kesehatan, energi, dan sumber daya air.
“Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan,” kata Saulo.
Pembaruan informasi WMO mengenai El Niño/La Niña merupakan sumber informasi paling otoritatif di dunia bagi pemerintah dan para pengambil keputusan. Prakiraan musiman ini didasarkan pada konsensus berbagai model dari Pusat Produksi Global WMO, para ahli dari Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional, serta pusat-pusat prakiraan iklim di seluruh dunia.
Pembaruan WMO mengenai El Niño/La Niña disusun melalui upaya kolaboratif antara WMO dan Center for Climate Systems Research (CCSR) / International Research Institute for Climate and Society (IRI) Columbia Climate School, AS, serta didasarkan pada kontribusi para ahli dari seluruh dunia.
Antara lain lembaga-lembaga: Australian Bureau of Meteorology (BOM), Centro Internacional para la Investigación del Fenómeno El Niño (CIIFEN), China Meteorological Administration (CMA), Climate Prediction Centre (CPC) dan Pacific ENSO Applications Climate (PEAC) Services dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat (AS).
Selain itu, European Centre for Medium Range Weather Forecasts (ECMWF), Météo-France, India Meteorological Department (IMD), Indian Institute of Tropical Meteorology (IITM), International Monsoons Project Office (IMPO), Japan Meteorological Agency (JMA), Korea Meteorological Administration (KMA), Met Office Inggris Raya, Meteorological Service Singapore (MSS), serta Global Producing Centres of Seasonal Prediction (GPCs-SP) WMO termasuk Lead Centre for Seasonal Prediction Multi-Model Ensemble (LC-SPMME).
Sejak tahun 1980-an, pendekatan utama untuk mengukur atau mengidentifikasi El Niño adalah penggunaan Oceanic Niño Index (Indeks Niño Samudra), di mana para ilmuwan menghitung Anomali Suhu Permukaan Laut di wilayah spesifik Pasifik yang disebut wilayah Niño 3.4.
Ketika dihitung berdasarkan rata-rata tiga bulan, angka ini menjadi Oceanic Niño Index (ONI).
Dalam beberapa tahun terakhir dan seiring dengan pemanasan global, metrik pengukuran yang lebih baru yang disebut Relative Oceanic Niño Index (RONI) mulai banyak digunakan.
Pendekatan ini mengukur pemanasan relatif, bukan sekadar pemanasan absolut, sehingga membantu ilmuwan menilai apakah suatu peristiwa pemanasan didorong oleh ENSO atau sebagian besar disebabkan oleh pemanasan laut global.
WMO adalah badan otoritatif dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah cuaca, iklim, dan air.
