Darilaut – Bidang Analisis Runtun Waktu (Time Series Analysis) bukan sekadar teknik statistik, melainkan telah berevolusi menjadi fondasi bagi berbagai pengambilan keputusan strategis lintas sektor.
Ahli Statistika bidang Analisis Runtun Waktu Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Prof. Ismail Djakaria mengatakan masa depan tidak hanya tentang menebak. Akan “tetapi tentang meramalkan secara ilmiah dan tepat,” ujarnya.
Di era digitalisasi ekonomi, integrasi antara data real-time dan model time series akan menjadi norma baru dalam perencanaan ekonomi.
Dengan bantuan dashboard interaktif dan automasi analitik berbasis kecerdasan buatan (AI), para pengambil keputusan dapat memantau dinamika indikator ekonomi secara harian, dan mengambil tindakan tepat waktu.
Inilah arah baru pengambilan keputusan ekonomi: bukan hanya berdasarkan data historis, “melainkan pada proyeksi tepat dari pola-pola dinamis yang ditangkap melalui analisis runtun waktu,” kata Prof. Ismail yang membawakan orasi ilmiah dengan judul ”Membangun Masa Depan dengan Statistika: Metode Analisis Runtun Waktu.”
Dalam sidang senat terbuka yang digelar di gedung auditorium UNG, pada Selasa (24/6), Prof Ismail menyampaikan pesan dengan menguraikan beberapa dalil baik dalam Al-Qur’an, maupun Al-Hadist:
QS. Al-Mulk (67:3-5):
“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidaklah kamu lihat dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Kembalilah kamu memandang, apakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian, ulangi pandanganmu sekali lagi, niscaya pandanganmu itu akan kembali kepadamu tanpa menemukan sesuatu cacat, dan pandanganmu itu pun akan letih.”
Menurut Prof Ismail, ayat ini mendorong kita untuk memperhatikan dan menganalisis ciptaan Allah, mencari pola dan keseimbangan, yang relevan dengan pendekatan ilmiah.
QS. Al-Baqarah (2:164):
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, dan kapal-kapal yang berlayar di laut dengan membawa apa yang bermanfaat bagi manusia, dan apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
”Ayat ini menekankan pentingnya memperhatikan dan memahami fenomena alam, yang relevan dengan pendekatan ilmiah dan analisis data,” kata Prof Ismail.
QS. Yunus (10:101):
“Katakanlah (Muhammad), Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan para rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”
Ayat ini, kata Prof Ismail, mendorong kita untuk memperhatikan dan memahami fenomena alam dan tanda-tanda kebesaran Allah, yang relevan dengan pendekatan ilmiah.
HR. Abu Nu’aim tentang berpikir dan merenung
“Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, tetapi janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah” (HR. Abu Nu’aim).
Prof Ismail mengatakan hadis ini mendorong kita untuk berpikir dan merenung tentang fenomena alam dan kehidupan, yang relevan dengan pendekatan ilmiah dan analisis data.
Pemikiran Ibnu Khaldun tentang analisis data
Ibnu Khaldun, seorang sejarawan dan sosiolog Muslim terkenal, menekankan pentingnya analisis data dan pengamatan dalam memahami fenomena sosial dan ekonomi.
Dalam Muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun membahas tentang pentingnya mempelajari pola-pola dan tren dalam sejarah dan masyarakat.
Pemikiran Al-Ghazali tentang pentingnya pengetahuan dan ilmu
Al-Ghazali, seorang filsuf dan teolog Muslim terkenal, menekankan pentingnya pengetahuan dan ilmu dalam memahami dunia dan meningkatkan kualitas hidup.
Dalam karyanya, Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali membahas tentang pentingnya menggunakan pengetahuan dan ilmu untuk membuat keputusan yang tepat dan bijak.
